Saya petikkan tulisan bagus tentang perjuangan seorang anak pengemis di Makassar untuk bisa bergabung dalam klub sepak bola di kotanya. Berkat keuletan dan persahabatannya dengan seorang anak wakil rakyat, anak miskin itu bisa masuk dalam tim inti, turut memenangkan pertandingan Liga Junior di Jakarta dan berkesempatan mencicipi rumput stadion sepak bola di Lyon, Perancis.
Terdengar seperti fiksi? Ini cerita nyata yang ditulis oleh Aan Mansyur, salah satu peserta pelatihan Jurnalisme Orang Biasa yang diselenggarakan oleh Panyingkul, situs yang didedikasikan untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (klik di sini untuk melihat lebih lanjut tentang Panyingkul).
Ini cerita hebat, yang ditulis berkat gagasan hebat untuk "merayakan jurnalisme orang biasa" (aku suka banget dengan frasa ini. Gagah kedengarannya)
Abanda, berpose di depan Biblioholic.
Foto : Basrul Haq
Bola Nasib Abanda
M. Aan Mansyur
“Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.”
(Daeng Halimah, nenek Abanda)
SEORANG PEREMPUAN MENDEKAT. Perempuan itu membawa nampan berwarna coklat berisi permen. Ia berjalan anggun mendekati setiap kursi menawarkan permen aneka rasa kepada para penumpang.
"Permen itu gratis," bisik Herli ke telinga kiri Abanda. "Jika kita naik pesawat, kuping akan terasa sakit," tambah Herli. "Maka untuk mengurangi rasa sakit, kita harus mengunyah permen sebanyak-banyaknya."
Saat tiba giliran Abanda, yang duduk dekat jendela, ia mengambil banyak permen. Pramugari yang membawa nampan kecil berisi permen itu membuat senyumnya lebih lebar saat melihat tingkah Abanda. Baginya, mungkin itu sangat menggelikan.
Karena gugup, Abanda lupa mengucapkan terima kasih, seperti yang sering ia lakukan dulu jika ada orang yang menjatuhkan kepingan uang logam di wadah sabun di tangannya.
Abanda kelihatan sungguh tegang duduk di salah satu kursi Merpati Nusantara Airlines, sementara teman-temannya tenang saja. Mungkin mereka sudah terbiasa naik pesawat, begitu pikir Abanda. Di antara 14 anak anggota tim Makassar Football School (MFS) 2000 yang akan berlaga di Liga Danone 2005 di Jakarta, Abanda yakin betul dirinyalah yang paling miskin. Di ruang tunggu, sebelum berangkat, semua anggota tim ditemani orang tuanya yang berpakaian bagus dan menggenggam ponsel mahal, kecuali dirinya. Semua anak lain membawa uang jajan, sementara ia tak membawa uang sepeser pun.
Hari itu, di bawah terik matahari bulan Agustus, Daeng Mantang, ibunya, yang seharusnya mengantar Abanda ke bandara sedang berada di Jalan Mesjid Raya, di sekitar lampu merah.. Neneknya, Daeng Halimah, dan adik-adiknya juga berada di sana, sedang menengadahkan tangannya pada jendela mobil yang terperangkap lampu merah. Sewaktu Abanda dan rombongannya melewati Jalan Mesjid Raya menuju bandara siang itu, ia masih sempat melihat Daeng Halimah dan adik-adiknya di sana masing-masing sedang memegang wadah sabun berwarna biru langit. “Itu nenekku,” kata Abanda pada Herli, sahabatnya, sambil menunjuk Daeng Halimah yang berdiri di trotoar mengamati mobil yang lewat. Bagi Abanda, Herli sudah seperti saudara. Kepada Herli, ia tidak menutupi apapun tentang diri dan keluarganya.
Subuh hari saat pamit, Abanda tidak berani meminta Daeng Halimah dan ibunya menemani ke bandara. Tentu saja tak akan ada yang berani melakukannya, pikir Abanda. Mereka pasti malu memperlihatkan tangan dan kakinya yang aus digerus penyakit kusta.
Sebelum keluar dari pintu rumah kontrakan neneknya yang sempit, Abanda merengkuh tubuh ringkih Daeng Halimah. Abanda bisa merasakan bagaimana tubuh neneknya bergetar menahan rasa haru. Saudara-saudaranya, Melisa, Jule, Fandi, dan Aisyah berdiri mengamatinya dari jarak yang tak bisa ia jangkau, mata mereka basah juga karena haru.
Subuh itu sungguh lain. Dulu, di waktu-waktu seperti itu Daeng Halimah sudah membangunkan Abanda sambil sibuk menyiapkan perlengkapannya, baju tua yang bau dan robek sana-sini, untuk kemudian bersegera berangkat ke tempatnya biasa bekerja. Tetapi tidak subuh itu, Daeng Halimah menemani Abanda menunggu penjemput yang akan membawanya ke Karebosi, di markas MFS berkumpul dengan teman-temannya yang juga akan berangkat ke Jakarta menjemput mimpinya masing-masing.
Hari itu, Daeng Halimah akan terlambat bekerja. Bagi Daeng Halimah, mengemis adalah bekerja. Mengemis adalah satu-satunya pekerjaan bagi nenek dan ibu Abanda. Jika saja nenek dan ibunya bisa melakukan pekerjaan lain, tentu mereka tak akan jadi pengemis. Penyakit kusta menjadi nasib buruk yang tidak memberi banyak pilihan hidup.
***
23 APRIL 1994, Abanda lahir di tengah keluarga berantakan di lokasi yang disediakan pemerintah sejak tahun 1970-an khusus untuk para penderita penyakit kusta di Makassar. Sebelum menikah, Daeng Mantang, ibu Abanda, adalah seorang gadis nakal. Tetangga-tetangga Daeng Mantang tahu hal itu. Abanda pernah bertanya kepada Daeng Mantang tentang tato di lengan kanannya tetapi ia marah dan tidak menjawabnya. Kata Daeng Halimah, sang nenek, dulu Daeng Mantang seorang pemabuk. Sampai nasib buruk kemudian datang pelan-pelan melalui kusta yang memakan jari-jari kaki dan tangan Daeng Mantang, seperti orang-orang tua lainnya di sana.
Kata Daeng Halimah, Abanda sudah jadi pengemis saat usianya belum sebulan. Abanda digendong Melisa, kakaknya yang lima tahun lebih tua, dari satu pintu pete-pete ke pintu pete-pete lainnya menagih simpati orang-orang. Sejak itu, Abanda tak lagi mengenal cuaca. Hujan atau kemarau tak ada bedanya bagi Abanda. Itulah sebabnya kulitnya legam. Gosong terbakar.. Itu jugalah sebabnya teman-temannya di MFS memanggilnya Abanda, meskipun sesungguhnya orang-orang di lingkungan rumahnya memanggilnya Aco dan di daftar hadir sekolah namanya Muhammad Nur. Abanda diambil dari nama mantan pemain Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), Abanda Herman. Kulit mereka nyaris sama hitamnya; Abanda anak jalanan yang mimpi jadi pemain bola, Abanda Herman pemain yang dikontrak dari Kamerun.
Abanda adalah anak kedua dari lima bersaudara. Sejak kecil Abanda tinggal bersama Daeng Halimah. Sebenarnya Daeng Halimah adalah tante Daeng Mantang. Tetapi karena tiga suami Daeng Halimah tak bisa memberinya satu pun anak, maka setelah tua ia mengangkat Abanda sebagai anak. Daeng Mantang tak keberatan satu beban hidupnya pindah ke tangan tantenya.
Ibu dan ayah Abanda sering bertengkar. Daeng Mantang boros dan tidak tahu menabung. Rumah milik mereka satu-satunya dijual kemudian mereka mengontrak di sepetak rumah kecil milik tetangganya yang tak layak disebut tempat tinggal. Tempat tinggal para penderita penyakit kusta yang terletak di RT 2 RW 2 Tamalanrea Jaya, Jalan Perintis Kemerdekaan VI itu kini dihimpit oleh pondokan mahasiswa. Sedikit demi sedikit rasa percaya diri orang-orang seperti Daeng Halimah dan orangtua Abanda muncul karena bergaul dengan masyarakat umum. Meskipun tentu tidak semudah yang Abanda bayangkan, banyak orang yang tetap meludah jika melihat tangan dan kaki Daeng Halimah. “Saya selalu berpikir bahwa keluargaku adalah tempat sampah yang penuh nasib buruk,” tutur Abanda dengan mata basah, saat ia menuturkan kehidupan keluarganya.
Setiap hari, sebelum Abanda sekolah, dari pagi hingga pukul 11 malam ia harus bekerja sebagai pengemis di dekat Mesjid Raya yang kini telah dipugar menjadi cantik berkat sumbangan dana 1,5 milyar rupiah dari Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla. Setelah sekolah di SD Bung, di depan Kampus Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan, Abanda hanya bekerja dari sore sampai malam hari. Bubar sekolah, ia harus bergegas menuju tempat di mana Daeng Halimah, Daeng Mantang, dan adik-adiknya mencari kepingan-kepingan uang logam. Ia tak sempat mengganti seragam sekolahnya. Daeng Halimah yang membawa pakaian ganti untuk cucunya di tempat mangkal mereka.
Abanda tak pernah membayangkan dirinya akan bermain bola seperti anak-anak lelaki lainnya yang sering ia lihat sore hari dijemput bapaknya. Di tempat ia mangkal, Abanda sering melihat anak-anak siswa MFS lewat dibonceng ayah mereka pulang seusai latihan melintas di jalan itu. Meskipun ia memang senang bermain bola, masuk MFS adalah sesuatu yang mustahil baginya. Membayar uang pendaftaran lima ratus ribu rupiah dan iuran bulanan dua puluh lima ribu rupiah tentu sangat besar dan berat baginya. Dalam sehari, Abanda hanya bisa mendapatkan uang paling banyak 10 ribu rupiah. Sebagian uang itu ia simpan untuk membayar biaya bulanan sekolahnya. Sebagian lagi untuk neneknya yang harus membayar kredit. Sewaktu jatuh sakit, Daeng Halimah harus meminjam uang tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk membeli obat. Setelah sembuh, Daeng Halimah harus mengembalikan uang itu tiga kali lipat. Demi membantu meringankan beban Daeng Halimah, Abanda harus terus menjadi pengemis setelah bubar sekolah. “Saya sebenarnya malu mengemis, tetapi utang nenekku banyak,” kata bocah berkulit legam ini.
* * *
DESEMBER 2004, Abanda bersama Herli akhirnya bisa ikut menjadi siswa MFS. Herli tak mau masuk MFS jika Abanda, sahabatnya, juga tak ikut. Abanda tentu tak mungkin mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Herli membujuk ayahnya, Syamsunia, untuk membiayai Abanda. Syamsunia, salah seorang anggota DPRD Sulsel, menyanggupi permintaan anaknya.
Sewaktu masih SD, Herli dan Abanda memang sudah menjalin persahabatan yang aneh. Herli anak yang berasal dari keluarga yang serba berkecukupan, sementara Abanda seorang pengemis. Bagi Abanda, Herli sangat berjasa memberinya rasa percaya diri untuk bisa bergaul dengan anak-anak lain yang nasibnya lebih beruntung. Abanda tahu banyak teman-temannya memandangnya rendah sebab ia seorang anak jalanan. Seorang pengemis. “Tetapi Herli berbeda dengan teman-teman saya yang lain. Meskipun ia tahu saya seorang pengemis dan keluargaku penderita kusta, ia tetap ingin jadi sahabatku,” kata Abanda tentang Herli.
Saat pertama bergabung di MFS, kecuali Herli, tak ada yang tahu bahwa Abanda seorang pengemis yang sering mangkal di Jalan Mesjid Raya.
Seleksi pertama yang diikuti Abanda dan Herli adalah Liga Danone 2005 di Jakarta. Sebagai anak yang hidupnya keras, Abanda memiliki fisik yang kuat. Ia lolos seleksi, Herli juga. Oleh pelatihnya, Achmad Palallo, Abanda diposisikan sebagai stopper. Postur tubuh yang lebih tinggi daripada teman-temannya, membuatnya cocok berada di posisi itu.
Setelah dinyatakan lulus seleksi, saatnya pemeriksaan data. Pengurus MFS 2000 kemudian tak menemukan data Abanda di antara siswa-siswa lainnya. Diketahui kemudian bahwa Pak Syamsunia memasukkan Abanda ‘lewat jendela’ tanpa perlu membayar uang pendaftaran.
Melihat bakat yang ditunjukkan Abanda, manajer tim MFS, Diza R. Ali, mendekati Abanda yang sedang menangis membayangkan dirinya tidak jadi bermain karena ketahuan tidak terdaftar sebagai siswa. Kepada Diza, Abanda kemudian menceritakan kisah hidupnya. Diza yang dikenal keras tersentuh juga hatinya dan mengijinkan Abanda menjadi siswa MFS sekaligus sebagai anggota tim MFS di Liga Danone 2005.
Abanda senang sekali membayangkan dirinya akan bermain di Jakarta. Ia berjanji akan mempertahankan gawang dari gempuran lawan-lawannya. Abanda dikenal sebagai anak yang ngotot dan keras dalam bermain, meskipun sesungguhnya dalam pergaulan sehari-hari, ia seorang anak yang pemalu.
***
MINGGU SORE, 26 JUNI 2005, di Stadion Brojonegoro Kuningan Jakarta, Abanda dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan tim Jawa Timur, Persebaya Junior, di Final Liga Danone Indonesia, dengan skor tipis 1 – 0 lewat gol dari Adi. Kawan-kawan Abanda merayakan kemenangan itu dengan saling merangkul dan kejar-kejaran di lapangan sambil berteriak, “Perancis, kami datang lagi!” Abanda tertunduk bergetar sendiri di depan gawang. Ia tak bisa membayangkan dirinya berada di Perancis mengikuti 2005 World Final Danone Nations Cup Ia dan kawan-kawannya telah diberitahu oleh manajer MFS, Diza Ali, bahwa jika ia menang ia akan pergi ke Perancis, seperti yang pernah dilakukan oleh siswa MFS tahun sebelumnya.
Sekembalinya dari Jakarta, ia semakin terus dibayangi oleh ketidakpercayaannya sendiri bahwa ia akan pergi ke Perancis. Ia bahkan tidak tahu di benua apa Perancis itu berada. Daeng Halimah juga sangat senang mendengar kabar cucunya akan berangkat ke Perancis, apalagi setelah menang di Jakarta, Abanda membawa pulang piala dan uang sebesartiga ratus ribu ribu yang ia bagi-bagi untuk nenek, ibu, dan saudara-saudaranya. Daeng Halimah menangis memeluknya saat ia menyerahkan uang hasil jerih payahnya bermain bola. Kata Daeng Halimah, itulah uang pertama yang diperoleh Abanda yang bukan dari hasil mengemis. Sebenarnya uang itu bukanlah hadiah dari kemenangan tim MFS di piala Danone. Panitia tidak menyediakan uang tunai sebagai hadiah. Kata Diza Ali di Harian Fajar, 28 Juni 2005, uang masing-masing tiga ratus ribu ribu itu sebenarnya adalah bonus yang ia rogoh dari sakunya sendiri.
Hasil yang diperlihatkan oleh Abanda, yang membuat timnya tidak kebobolan satu gol pun, dan kegigihan Abanda ingin jadi pemain bola membuat Diza Ali kemudian mengangkat Abanda sebagai anaknya. Sekembalinya dari Jakarta, Abanda kemudian menjelaskan kepada Daeng Halimah bahwa hidup dan sekolahnya akan dibiayai oleh manajernya. Daeng Halimah tak mungkin menolak nasib baik cucunya itu. Sejak saat itulah Abanda tak pernah lagi mangkal di Jl. Mesjid Raya bersama neneknya.
Setiap hari ia harus keras berlatih menghadapi pertandingan final piala Danone di Lyon, Perancis. Ia tak mau melepaskan mimpinya untuk bisa terbang ke Perancis. Setelah latihan, ia sering berdiri di pagar melihat-lihat para pemain PSM berlatih. Dari sanalah kemudian tumbuh keinginannya untuk menjadi pemain bola profesional yang main di PSM.
Diza Ali menargetkan MFS kali ini masuk lima besar. Tahun sebelumnya di ajang yang sama, mereka hanya berada di posisi 26 dari 32 peserta. Abanda merasa ia juga memiliki tanggung jawab besar itu, masuk lima besar. Ia bahkan berkata pada dirinya sendiri, “MFS harus juara!”
Sabtu, 28 Agustus 2005, dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, rombongan MFS bertolak ke Perancis. Abanda tak bisa memejamkan mata di pesawat. Ia tak bisa meredakan kegembiraan hatinya. Ia mengingat satu per satu wajah orang-orang yang dicintainya; Daeng Halimah, Daeng Mantang, Daeng Kaseng, saudara-saudaranya, dan teman-temannya di Jalan Mesjid Raya dan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia tak bisa melupakan pesan neneknya, “Jadilah orang sukses, Nak!”
* * *
LEBIH 11.580 KILOMETER dari Indonesia, di sebuah lapangan basket di Lyon, Perancis, pada tanggal 5 September 2005, Abanda bergoyang bersama bersama anak-anak seusianya dari 32 negara. Abanda tak pernah bisa melupakan peristiwa itu dari kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa betul-betul sebagai anak-anak. Sebelum menjadi siswa MFS dan bermain bola membela negaranya, ia selalu merasa sebagai anak yang terpaksa menjadi dewasa; mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya sendiri. Di farewell party itu, ia bersenang-senang sebisanya. Ia melupakan semua kegetiran hidup yang selama ini tak mau beranjak darinya.
Meskipun tak bisa memenuhi target masuk lima besar, Abanda sangat senang bisa mengalahkan tim-tim besar seperti Belanda, Italia, Perancis, dan Irlandia. Ia tak bisa melupakan usapan jari, Achmad Palallo, pelatihnya, di kepalanya karena berhasil membawa MFS menjadi tim yang paling sedikit kebobolan gol. Tentu saja Abanda merasa ini adalah buah dari kerja kerasnya.
Sampai kini, Abanda masih bisa dengan lancar menceritakan kegembiraannya pernah bermain di Perancis. Di lingkungan para penderita kusta di tempat tinggalnya, ia dielu-elukan seperti seorang pahlawan yang pulang membawa kemenangan dari medan perang.
Daeng Halimah mengenang kisah kemenangan cucunya itu sebagai kebahagiaan paling besar yang pernah dirasakan keluarganya. Daeng Halimah, sambil melihat jari-jari tangannya yang aus, membanggakan cucunya. Ia berulang-ulang mengatakan, “Saya sangat percaya nasib itu bisa berubah, sepanjang kita mau berusaha.” Sebagai pengemis, Daeng Halimah tak pernah menyesali nasibnya. Seandainya ada orang yang mau menjadikan saya pembantu rumah tangga, tentu saja saya tak mau turun ke jalan, kata Daeng Halimah.
Di atas meja kecil tak bercat di sudut ruang tamu Daeng Halimah, berdiri sebuah piala berwana perak yang diterima Abanda di Perancis. Di atas piala itu, selembar foto Abanda bersama tim MFS lainnya, terpajang tanpa bingkai, di dinding rumah yag kusam itu.
***
SEPULANG DARI SEKOLAH, Selasa 11 April 2006, Abanda makan siang lalu mengganti seragamnya. Sekarang ia tak lagi butuh tergesa-gesa melakukannya. Ia kini tinggal di tempat tinggal ibu angkatnya, Diza R. Ali, di sudut barat-selatan Lapangan Karebosi, di mana kantor MFS berdiri. MFS yang diresmikan oleh Agum Gumelar, Ketua PSSI waktu itu, tanggal 23 Agustus 2000 sekarang menjadi tempat tinggal Abanda. Sebuah kamar kecil di sebelah kanan kamar seorang lelaki tua yang bertugas memotong rumput lapangan MFS, menjadi kamar Abanda. Di kamar itulah Abanda selama ini beristirahat selepas latihan.
Dengan baju seragam bola yang kedodoran berwarna biru berlengan putih bertuliskan Makassar Football School di punggungnya, Abanda memasuki lapangan sambil menenteng bola. Ia sudah tak canggung lagi berjalan bersama siswa-siswa lainnya yang rata-rata anak orang kaya.. Di lapangan ia memimpin teman-temannya berlari-lari, berbelok-belok menggiring bola melewati rintangan yang sudah dipasang oleh pelatihnya. Ia terlihat semakin lihai memainkan bola. Kini setiap hari Abanda harus berlatih mempersiapkan diri untuk ikut kembali berlaga di Liga Danone di Jakarta. Ia sangat berharap tahun ini timnya kembali bisa terbang ke Perancis dan menjadi juara. Dalam bermain bola, bocah legam itu selalu meniru gaya bertahan Rio Ferdinand, pemain Manchester United yang diidolakannya.
Abanda memang beruntung. Dari 400 lebih siswa MFS saat ini, ia terpilih kembali memperkuat MFS di Liga Danone.
Kini ia berkonsentrasi untuk latihan, ia tak perlu lagi turun ke jalan mencari uang untuk makan dan membiayai sekolahnya. Oleh ibu angkatnya, ia disekolahkan di SMP Nasional Makassar, di Jl. Ratulangi. Sekarang ia masih duduk di kelas 1, kelas 1 A.
Seusai latihan, Abanda masuk ke kamarnya mengambil handuk lalu mandi. Setelah itu ia harus menyelesaikan tugas dari sekolah yang harus ia kumpulkan besok harinya.
* * *
SELEPAS MAGRIB, SELASA, 11 April 2006, Daeng Halimah masih terlihat berjalan di antara pete-pete di Jl. Mesjid Raya. Sementara itu, Daeng Mantang dan suaminya, Daeng Kaseng, menikmati makan malam sambil menunggui gardu kecilnya yang belum lama mereka dirikan di rumah kontrakan mereka, di antara rumah-rumah para penderita kusta lainnya. Gardu kecil itu mereka bangun dari uang yang dipinjam dari tetangganya dengan bunga hampir tiga kali lipat dari nilai pinjaman.
Malam itu, Aisyah, adik bungsu Abanda sedang menengadahkan tangannya di lampu merah di Jalan Perintis Kemerdekaan, di sekitar Pintu II Universitas Hasanuddin, di jalan masuk Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Belum sebulan ia pindah ke tempat mangkal yang baru itu. Melisa, kakak Abanda yang telah menikah dengan seorang lelaki pemabuk dan kemudian bercerai, sedang berada di kamarnya berusaha menidurkan anaknya yang tak lagi memiliki ayah. Melisa dan suaminya bercerai dua bulan setelah anak mereka lahir.
Sementara di salah satu sudut Karebosi, Abanda baru saja menyelesaikan rutinitas latihannya. Setiap hari ia berlatih penuh semangat, demi untuk mewujudkan impiannya: menjadi pemain bola yang hebat dan membahagiakan keluarganya. (p!)