Archive for May, 2006

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah

Thursday, May 18th, 2006

Muhammad09Dari puluhan milyard anak cucu Adam yang pernah mendiami dunia, menurut Michael H. Hart - penulis Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, mungkin hanya sekitar 20.000 orang yang hasil upayanya memiliki nilai untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah tersebut, beliau memilih seratus orang yang berdasarkan urutan paling berpengaruh dalam sejarah.

Dari seratus yang masuk klasifikasi, Rasulullah SAW menempati urutan pertama, bahkan mengalahkan “Nabi Isa” yang entah menurut penulisnya dianggap sebagai Nabi atau Tuhan atau selainnya. Hart menulis, “Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu”

Lepas dari masalah setuju-tidaknya dengan pendapat Hart di atas, yang jelas dan pasti Rasulullah SAW banyak diakui oleh mereka yang non muslim, sebagai figur pemimpin yang tak tertandingi hingga kini. Bahkan mereka terus menerus mempelajari dan menyelidiki, apa kunci sukses kepemimpinan Muhammad SAW.

Bila demikian mereka yang non muslim, aneh bin ajaib bila terdapat seorang muslim yang mengaku sebagai ummatnya justru tak menjadikannya sebagai figur, tauladan, dan sumber inspirasi dalam segala hal yang menyangkut kepemimpinan. Padahal lepas dari masalah apapun, sebagai seorang muslim, tak salah bila dikatakan bahwa meniru Beliau SAW sebagai suatu kewajiban.

100tokoh“Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia (Muhammad SAW, pen) seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun; belum pernah ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia”, demikian pendapat Will Durant dalam The Story Of Civilization.

Thomas Carlyle, dalam On Heroes and Hero Worship mengatakan, “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa dari Delhi hingga Granada”.

Mereka dan ribuan sejarawan serta ilmuwan lain “penasaran” dan terus mengkaji strategi dakwah, manajemen kepemimpinan bahkan “mengamalkan” sunnah-sunnah Nabi SAW. Ironisnya, mereka yang bersyahadat tentang kenabiannya justru tak meneladani bagaimana sepak terjang perjuangan, akhlak dan kepemimpinan Beliau SAW.

Secara ringkas, seperti juga ayat Al-Quran dan sabda beliau sendiri, bahwa kehadirannya merupakan rahmat bagi alam semesta. Dalam menggambarkan kasih sayangnya, Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengharapkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah, 9: 128)

Insan yang bernama Muhammad SAW ini, merasa sedih dan ikut merasakan penderitaan bila terdapat ummatnya yang menderita. Pengkabaran ini difirmankan langsung oleh Allah seperti dalam ayat di atas. Dan dalam prakteknya, sejarah telah menulis berbagai kisah tentang apa yang difirmankan Allah tersebut.

Rasulullah SAW telah tercatat dalam berbagai kitab sejarah tentang bagaimana sifat kasih sayang beliau. Jangankan terhadap manusia, terhadap lingkungan dan bahkan hewanpun rasa kasih sayang itu masih beliau perlakukan. Dialah manusia yang menangis sesenggukan saat melihat hewan yang diperlakukan kasar oleh si majikan. Benda-benda matipun tak kalah diperhatikan olehnya. Dalam sebuah sabdanya beliau SAW berujar, bahwa Gunung Uhud cinta kepada beliau dan beliau pun cinta kepada Uhud.

Bila demikian terhadap hewan dan benda, lalu bagaimana sifat belas kasih dan penyayang (Rauufur rahiim) terhadap ummatnya? Sungguh suatu cinta, kasih sayang yang tak mungkin tertandingi oleh manusia lain, sekalipun bapak-ibu kita sendiri.

Mengapa demikian? Karena kecintaan dan kasih sayang Beliau SAW, adalah hakekat cinta dan kasih sayang, bukan sekedar cinta. Dan yang perlu diingat, kecintaan dan kasih sayang ini bukan ditujukan kepada para keluarga dan sahabat beliau yang dengan setia telah mengorbankan segalanya demi Islam.

Kepada siapapun yang mengimani kerasulannya, beliau cintai dan sayangi. Bahkan tak berlebihan bila dikatakan, bahwa kecintaan dan kasih sayang Beliau SAW kepada ummat yang datang sepeninggalnya, jauh lebih besar.

Dimensi Paripurna Pribadi Nabi SAW

Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak menyebut Allah (QS. 33:21).

Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia. Ini berarti bahwa semua orang dapat menemukan pada diri Nabi Muhammad SAW “keteladanan” yang dapat mengantar mereka memperoleh rahmat Ilahi serta kebahagiaan ukhrawi.

Abbas al-Aqqad dalam bukunya Abqariyyat Muhammad mengemukakan bahwa ada empat tipe dan kecenderungan manusia, yaitu ilmuwan, seniman, pekerja, dan mereka yang tekun beribadah. Pada umumnya, bila kepribadiannya telah menonjol dalam satu aspek atau salah satu kecenderungan ini, biasanya manusia tidak lagi menonjol dalam tipe dan kecenderungan yang lain. Kalaupun yang lain ada, peringkatnya jauh di bawah penonjolan yang pertama itu. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang mencapai puncak dalam keempat kecenderungan manusia tersebut. Dari sini, wajar jika beliau dijadikan Allah sebagai teladan bagi seluruh manusia.

Prestasi yang dicapai Nabi itu merupakan berkat penanganan Allah secara langsung terhadap beliau. “Allah mendidikku, maka sungguh baik pendidikan (terhadap)-ku”. Mahaguru beliau adalah malaikat Jibril dan materi pengajarannya adalah al-Quran. Begitu bunyi QS. 53:5. Jadi, wajar jika ‘A’isyah menegaskan, “budi pekerti beliau adalah al-Quran.”

Ayah, suami, anak, negarawan, pemimpin masyarakat atau militer, semuanya dapat menimba keteladanan dari sumber yang tidak pernah kering itu. Berikut kita paparkan sekilas potret kepribadian beliau, sebagaimana dituturkan oleh mereka yang secara langsung pernah melihatnya.

Jika berbicara, Nabi sering menggigit-gigit bibirnya, menggelengkan atau menganggukkan kepala, memukul-mukul telapak tangan kiri dengan jari telunjuknya. Agaknya ini pertanda beliau memikirkan apa yang diucapkan sebelum terucapkan, karena beliau yakin: Tiada satu ucapanpun yang diucapkan, kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya) (QS.50:18). Ucapannya jelas, tiada kata yang “dikunyah” sehingga tidak terdengar, juga tiada yang tak bermanfaat. Pilihan kata-katanya sangat tepat. Lantaran ini, bahkan beliau dianugerahi “Jawâmi’ al-Kalim”, yakni kemampuan menyusun kalimat sarat makna.

Sering ucapannya diulangi tiga kali. Bukan hanya dialeknya yang sering disesuaikan dengan mitranya, tetapi juga kandungan percakapannya. Kalimat paling buruk dari ucapan beliau adalah: “Semoga dahinya terkena lumpur”. Menurut penelitian, hanya sekali beliau menggunakan kata yang kotor menyangkut hubungan seks. Itu untuk meminta kejelasan dari seorang yang berobat dan ingin dijatuhi sanksi.

Tertawa beliau umumnya hanya senyum. Kalaupun melebihi senyum, itu tidak sampai terbahak. Paling-paling antara gigi taring dan gerahamnya saja yang terlihat. Tangis dan keprihatinannya lebih banyak daripada tertawanya. Sabdanya: “Jika kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Tak heran karena memang al-Quran mengecam kaum musyrik: Apakah kalian merasa heran terhadap penberitaan ini, dan kalian menertawakan serta tidak menangis? (QS. 53:59-60).

Ketika putra Ibrahim wafat, beliau menangis. “Air mata berlinang, hati duka, tetapi kita tidak berucap kecuali yang diridhai Allah. Kami dengan kepergianmu, hai Ibrahim, sungguh sedih.” Demikian beliau melepas putra kesayangannya. Ketika Ibn Mas’ud membaca surat an-Nisa’, beliau tekun mendengarnya. Tapi beliau meminta sahabatnya itu untuk berhenti, karena beliau tak kuasa menahan tangisnya, ketika sampai pada firman-Nya:

Maka bagaimanakah keadaannya apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu? (QS. 4:41)

Kemurahan dan kerendahan hati Nabi SAW sangat menonjol. Beliau tidak menggunakan atau menerima sedikitpun sedekah, tetapi menerima hadiah dan menganjurkan untuk saling bertukar hadiah. Dari orang Nasrani dan Yahudi pun beliau menerima hadiah dan membalasnya. Raja Mesir, al-Muqauqis, antara lain pernah memberinya hadiah keledai (baghal) yang kemudian dikendarai beliau dalam peperangan Hunain. Tetapi beliau menolak hadiah kuda dari Amir bin Malik karena kemusyrikannya. “Kita tidak menerima hadiah dari musyrik,” sabda beliau. Namuan demikian, beliau membenarkan seseorang menerima hadiah dari keluarganya yang musyrik.

Asma’ putri Abu Bakar pernah menolak hadiah ibunya yang masih musyrik. Tetapi, ketika ‘A’isyah saudari Asma’ dan istri Nabi menanyakan sikap tersebut kepada beliau, turun ayat al-Quran yang menyatakan:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil (memberi sebagian dari hartamu) terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir dari negerimu… (QS. 60:8)

Jadi setelah turun ayat ini, Rasul membolehkan umatnya menerima hadiah sekalipun dari seorang musyrik. Walau demikian, Rasulullah SAW mewanti-wanti pejabat yang menerima hadiah, jangan sampai di belakang hadiah itu terdapat motif yang tidak lurus. “Apakah bila duduk di rumah ibunya (tidak menjabat), ia diberi pula hadiah itu?”

Beliau enggan dipuji, baik pujian pada tempatnya, apalagi bukan pada tempatnya. Dua orang penyanyi mendendangkan lagu menyebut-nyebut syuhada perang badar. Ketika mereka bersyair, “Ada Nabi di sisi kami mengetahui yang terjadi esok”, Nabi menegur mereka: “Yang demikian jangan diucapkan.”

Tak bisa disangkal bahwa beliau adalah semulia-mulia nabi. Namun, ketika seorang memanggil beliau dengan ucapan “Ya, Khairal-bariyyah” (wahai, manusia terbaik), beliau menegurnya sambil berkata: “Panggilan itu untuk Nabi Ibrahim.” Dan meski Allah menyatakan bahwa Rasul-rasul itu kami muliakan sebagian mereka atas sebagian yang lain (QS. 2:253).

Nabi SAW menegaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari: “Jangan pilah-pilah kebaikan para nabi.” Ini, tentunya, agar tidak menimbulkan kesan negatif terhadap seseorang di antara mereka yang dapat mengantarkan kepada sikap merendahkan mereka atau tidak beriman kepada kenabian mereka. Bukankah Allah mengajarkan Muslim untuk berucap Kami tidak membedakan antara seorang pun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya (QS. 2: 285).

Nabi SAW sangat sayang kepada anak-anak. Beliau mengucapkan salam kepada mereka sambil menyapanya. Bahkan boleh jadi menggendongnya. Ketika seorang anak pipis di pangkuan beliau, pengasuhnya merebut sang anak dengan kasar. Maka beliau menegurnya: “Biarkan dia pipis. Ini (sambil menunjuk pakaian beliau yang basah) dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menjernihkan kekeruhan hati anak ini akibat renggutan yang keras?”

Keramahan dan kasih sayang beliau mencakup segala orang. “Kasihanilah petinggi satu kaum yang jatuh hina,” demikian sabdanya.

Ketika seseorang begitu takut dan gemetar menghadap beliau, beliau menenangkan orang itu sambil mengingat jasa ibunya: “Aku tidak lain adalah anak seorang wanita suku Quraisy yang memakan dendeng.” Sebagai penghormatan kepada orang lain, beliau mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk bersalaman. Beliau menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya, dan tidak terlihat meluruskan kaki sambil duduk di tengah sahabatnya. Beliau memanggil mereka dengan panggilan mesra atau panggilan penghormatan, yakni dengan kunyah (kata yang didahului oleh “Abu” atau “Ummu”).

Beliau tidak pernah memotong pembicaraan seseorang. Dan, kalau menegur, tidak menyebut nama yang ditegurnya. “Mengapa ada yang melakukan ini dan itu,” begitu ucapnya. Ketika salah seorang “keluar angin” di pesta makan, dan setelah itu shalat segera akan dimulai, beliau tidak berkata: “yang keluar angin silakan berwudhu.” Beliau cukup mengatakan: “siapa yang makan daging unta, hendaklah dia berwudhu.” Namun sabdanya ini disalahpahami oleh ulama yang tidak mengetahui latar belakangnya sehingga menduga bahwa makan daging unta membatalkan wudhu. Padahal tidak demikian.

Kesadaran beliau akan tidak hidup untuk duniawi sungguh menonjol. Unta beliau dikenal sangat laju, tidak terkejar oleh unta lain. Tapi suatu ketika unta itu terkalahkan. Para sahabat pun kecewa sehingga beliau mengingatkan: “Telah menjadi ketetapan Allah, tidak sesuatupun yang ditinggikan-Nya, kecuali suatu ketika ia akan turun dari ketinggian itu.”

Demikian sekelumit kepribadian Nabi Muhammad SAW yang tak pernah habis untuk diuraikan. Semoga shalawat dan salam iIlahi tercurah kepada beliau, keluarganya serta para sahabatnya.

Muhammad Dalam Pandangan Cendekiawan Barat

Friday, May 12th, 2006

Barat01Salam dan shalawat Allah swt atas Muhammad saw dan keluarganya. Dialah penyampai ajaran Ilahi dan membimbing umat manusia menuju ke arah kesucian dan jalan terang, keutamaan dan keindahan. Dialah manusia, yang dengan superioritas kemanusiannya dalam segala hal, dan kelebihan-kelebihan maknawinya, telah diciptakan dan dipilih untuk memberi petunjuk kepada segenap manusia di dunia ini.

Rasul Allah Muhammad saw, di puncak kesucian dan keikhalasan, dan di sepanjang usianya, selalu berjuang menghadapi kezaliman, kedurjanaan dan dosa. Akan tetapi ternyata masih ada sejumlah orang tak beradab dan angkuh, yang memandang kehidupan dunia ini sebagai sumber dan tujuan akhir ketamakan-ketamakan mereka, yang menjadikan beliau sebagai sasaran kebodohan dan keangkuhan mereka. Namun, sebagaimana orang mengatakan, “Hendak melawan sinar mentari dengan sinar lilin”. Saudara sekalian, dalam acara ini kami akan mengajak Anda untuk melihat pandangan-pandangan sejumlah cendekiawan Barat tentang Rasul Allah saw.

Sebagaimana diketahui ada dua cara untuk mengenal tokoh-tokoh besar. Pertama ialah dengan mempelajari pemikiran, karya dan peninggalan-peninggalan tokoh ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jalan terpenting mengenal Rasul Allah saw ialah Al-Quran. Sebuah kitab pemberi petunjuk, yang menurut Zeoul Labum, peneliti dari Perancis, “Al-Quran adalah lautan ilmu yang melahirkan banyak cabang di sana-sininya. ”Muslimin mengambil ilmu-ilmu dari Al-Quran lalu mengalirkannya ke seluruh belahan dunia.”

Cara lain mengenal tokoh besar ialah dengan meneliti karya-karya para cendekiawan dan peneliti yang berbicara tentang tokoh tersebut. Rasul Allah Muhammad saw, sebagaimana menjadi sasaran kebencian dan kemarahan oleh sejumlah pembenci di Barat, juga mendapat pujian dan penghormatan yang sangat tinggi dari sejumlah kalangan cendekiawan Barat. Untuk itu, dalam rangka mengenal lebih baik Rasul Allah saw, ada baiknya pula kita dengar pandangan orang-orang yang dengan obyektifitas dan kejujuran tinggi berbicara tentang kehidupan manusia mulia ini. Seorang cendekiawan semisal “La Martin” yang setelah meneliti kehidupan Nabi, dari relung hatinya yang paling dalam ia menyatakan, “Muhammad adalah manusia di atas manusia dan di bawah Tuhan. Tak dapat diragukan bahwa ia adalah utusan Tuhan.”

Barat02Thomas Carlyle, cendekiawan Inggris, berkata, “Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa seorang cendekiawan menerima begitu saja ucapan seseorang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.

Saudaraku, apakah kalian pernah menyaksikan, dalam sejarah, seorang pendusta yang mampu menyampaikan sebuah agama yang sedemikian kokoh dan menyebarkannya ke seluruh dunia? Saya yakin bahwa manusia harus bergerak sesuai dengan UU dan logika. Jika tidak maka ia tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Mustahil bahwa manusia besar ini adalah seorang pembohong. Karena pada kenyataannya, kebenaran dan kejujuran adalah dasar semua kerjanya dan pondasi semua sifat utamanya.”

Kemudian Carlyle melanjutkan, “Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya. Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selainnya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak-sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas.”

Setelah itu, dengan emosi yang muncul dari pengetahuannya yang teliti tentang Rasul Allah saw, Carlyle menambahkan, “Hati manusia mulia putra padang pasir ini penuh dengan kebaikan dan kasih sayang. Ajaran-ajarannya terjauh dari semangat egoisme, dan pandangan-pandangannya bersih dari ketamakan kepada pangkat kedudukan duniawi. Saya mencintai Muhammad dengan segenap wujud, karena seluruh wataknya sangat jauh dari tipu muslihat dan basa-basi.”

Barat03Gustav Lebon, cendekiawan Perancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”, menulis, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

Will Durant, sejawaran AS, dalam dua buku sejarahnya, juga memuji Muhammad Rasul Allah saw. Ia menulis, “Kita harus katakan bahwa Muhammad adalah tokoh sejarah terbesar.

Ketika memulai dakwahnya, negeri Arab adalah sebentang padang pasir kering dan kosong, yang di beberapa kawasannya dihuni oleh sejumlah kaum Arab penyembah berhala. Jumlah mereka kecil tapi perselisihan diantara mereka sangat banyak.

Akan tetapi ketika beliau wafat, penduduk Arab ini pula telah muncul sebagai umat yang bersatu dan kompak. Beliau menghapus segala macam khurafat dan fanatisme dan menyuguhkan sebuah agama dyang sederhana tapi kokoh dan terang benderang yang dibangun di atas dasar keberanian dan kemuliaan. Kitab beliau adalah Al-Quran dan tak ada kitab lain yang mampu menandinginya dari segi kekuatan pengaruh dan daya tariknya.”/em>

An Apology for Mohammad and the Koran

John Diven Port, cendekiawan Inggris, menyatakan penyesalannya terhadap sikap tendensius terhadap Nabi Islam. Dalam bukunya yang ia tulis berkenaan dengan Nabi Muhammad saaw, dengan segala kejujuran dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi, ia berusaha membersihkan segala macam kedustaan dan tuduhan negatif dari kehidupan Nabi Muhammad, dan mengajak orang-orang sesat ini untuk merenung dan berpikir dengan benar.

Diven Port menulis, “Dari segi keindahan dan kebaikan watak dan perilaku, Muhammad memiliki keistimewaan yang sangat tinggi. Mereka yang tidak memiliki watak-watak seperti inilah yang memandang beliau sebagai sesuatu yang tak bernilai.

Sebelum memulai ucapannya, beliau telah menarik para pendengar beliau, baik satu orang atau banyak, dengan akhlak dan peringainya yang sangat mulia. Wajah beliau memancarkan kewibawaan sekaligus daya tarik yang amat kuat. Senyumnya yang indah takpernah lepas dari bibir beliau. Pada akhirnya, hal-hal lembut dan menarik selalu beliau masukkan dalam tutur kata beliau, memaksa setiap orang memujinya. Oleh sebab itulah beliau dikenal sebagai tokoh agama yang paling langka di dunia.”

Dosun, penulis Perancis, dalam bukunya “Muhammad dan Islam” menulis, ”Pada umumnya, warga Perancis tidak menaruh minat kepada pembahasan masalah-masalah keagamaan. Akan tetapi, mereka yang taat beragama dan pemikir Perancis, memiliki pandangan lain kepada Islam. Hakekatnya ialah bahwa kemunculan Islam dan penyebarannya termasuk diantara hasil karya besar dan amat penting sejarah manusia. Di akhir abad ketujuh Islam mampu merambah ke Suriah, Iran, Mesir dan dunia Arab, dan menyebar di seluruh Afrika Utara, serta menguasai seluruh pulau-pulau di laut Mediterania, kemudian masuk pula ke India dan Cina. Saat ini Islam telah memberikan pengarunya yang luas dalam peradaban dunia serta dalam poliitk kontemporer. Keberhasilan perjuangan Muhammad saaw, dalam menggeser UU yang berlaku di negara-negara Asia, padahal mereka termasuk diantara negara terkuno di dunia, serta ketahanan UU islam ini selama berabad-abad, merupakan bukti terbaik yang menunjukkan kebenaran tokoh ini dan keistimewaannya yang langka.”

Sumber : SwaraMuslim.com