Archive for February, 2006

Kampanye Mengganti Valentine Day dengan Muhammad Day

Thursday, February 23rd, 2006

Sejumlah pemuda Mesir menyerukan kaum Muslimin untuk merubah perayaan Valentine’s Day yang bertepatan dengan 14 Februari dengan Muhammad Day. Seruan ini disampaikan di sejumlah situs internet Islam untuk memberi alternatif yang sangat positif, di samping menampilkan kecintaan dan dukungan Muslim kepada Rasulullah saw. Terlebih, baru saja kaum Muslimin dunia diguncangkan oleh kartun yang melecehkan Rasulullah saw.

“Berdasarkan bahwa cinta adalah nilai prinsip dalam Islam, maka kami menyerukan kampanye “Yelaa Noheb bi jidd” (Mari Benar-benar Mencintai) dengan meluruskan pemikiran tentang makna cinta yang sesungguhnya. Mereka menyodorkan pemikiran baru tentang cinta di simbol “Yela Noheb Zey Nabiyena” (Mari mencintai pakaian Nabi kita). Seruan ini bukan merupakan pengakuan kecintaan sakral sebagaimana sikap yang ditampilkan oleh para pendukung Valentine. Tapi kecintaan yang disalurkan dalam koridor Islam yang lebih utama.

Selain itu mereka juga menyebutkan bahwa ide ini disampaikan berdasarkan pemikiran bahwa tidak ada yang lebih berhak menampilkan cinta melebihi cinta Rasulullah saw. “Rasulullah saw tidak pernah melampiaskan cinta keluar dari ikatan pernikahan. Dan karenanya pelajaran romantis harus diambil dari hubungan suami istri. Berbeda dengan percintaan suci para pendukung valentine yang lebih banyak diarahkan pada hubungan lain jenis yang tidak diikat dengan tali pernikahan.

Karena itulah, menurut mereka, cinta dalam Islam lebih utuh dan lebih mulia dalam seluruh aspeknya. Mereka menyerukan para pemuda dan pemudi Islam tidak terlibat dalam acara percintaan ala valentine’s day. Tapi dirubah dengan memperingati hari Muhammad Day, dengan membenahi pemahaman cinta dengan pemahaman yang benar sesuai pengajaran yang didapat dari Rasulullah saw. Seruan ‘Muhammad Day’ juga dilakukan melalui sms ke berbagai nomor hand phone di kalangan muda mudi Mesir.

Para pemuda Islam yang menyerukan Muhammad Day menyatakan bahwa ide mereka ini bukanlah bid’ah ditinjau dari sisi syariat. Karena apa yang dilakukan adalah untuk memanfaatkan event tertentu terutama kasus penghinaan atas Rasulullah saw melalui kartun oleh sejumlah media Barat. “Ide peringatan hari Muhammad Day adalah dengan tujuan menyampaikan pesan, bukan ditetapkan sebagai kesempatan yang harus dilakukan setiap tahun,” ujar mereka.(na-str/iol/eramuslim)

sumber : swaramuslim.net

Kartun Nabi dan Reaksi Umat

Wednesday, February 22nd, 2006

MuhammadDua minggu terakhir ini, hampir di seantero dunia Islam terjadi demonstrasi besar-besaran menentang penerbitan sebuah gambar kartun yang dituliskan sebagai kartun nabi Muhammad SAW. Demonstrasi bahkan tidak saja terjadi di dunia Islam, tapi juga di berbagai belahan di dunia barat, termasuk di AS. Bahkan yang menyedihkan, reaksi keras umat Islam di berbagai belahan dunia telah memakan korban jiwa dan kepemilikan. Sedikitnya 4 orang meninggal dunia ketika terjadi bentrokan antara demonstran dan polisi di Afghanistan. Sementara gedung perwakilan Denmark di Lebanon dibakar oleh demonstran.

Bagi banyak kalangan, barangkali mereka sempat dibuat terheran-heran oleh reaksi keras umat Islam ini. Dalam benak mereka, kenapa harus bereaksi demikian? Kenapa sampai umat Islam itu menjadi sangat emosional oleh sebuah kartun itu? Apalagi bukankah kita hidup dalam dunia global yang salah satunya adalah bebas berekspresi? Pemuatan kartun yang disebut sebagai gambar nabi Muhammad itu, menurut editor harian tersebut, tidak lebih dari “freedom of expression”.

Dua Pelecehan

Pemuatan kartun yang digambarkan sebagai Muhammad SAW ini merupakan pelecehan
dalam dua sisi. Pertama adalah visualisasi nabi Muhammad yang jelas dilarang dalam agama. Dan kedua adalah ditampilkannya dengan sebuah sorban dari bahan peledak yang siap meledak.

Yang pertama bagi saya pribadi, bukanlah suatu hal yang terlalu luar biasa. Ada dua alasan: Pertama, karena gambar apapun yang dibuat sudah pasti hanya sekedar imajinasi yang bukan sebenarnya. Hingga saat ini belum ada orang yang bisa menggambarkan tampilan lahiriah Rasulullah SAW. Semua gambar yang dianggap gambar orang-orang lalu, seperti Isa AS, Maryam AS, dll., semuanya adalah palsu dan tidak sebenar nya. Sehingga pengakuan kartun itu sebagai Nabi Muhammad adalah kebohongan semata. Persis gambar-gambar yang diakui sebagai gambar nabi Isa yang ada di mana-mana sekarang ini.

Kedua, larangan menggambar Nabi Muhammad tentunya berlaku bagi umat Islam. Sebab sebuah aturan hukum Islam ditujukan untuk mereka yang percaya dengan agama ini. Bagi mereka yang mengkafirinya tentu susah mengharapkan untuk mengikuti aturan yang ada dalam agama ini. Beribu macam gambar yang mereka telah lakukan, khususnya jika disearch di internet. Oleh karenanya, saya tersinggung dengan gambar yang disebutkan sebagai gambar Nabi Muhammad, tapi saya sadar mereka yang melakukan itu memang tidak terikat dengan hukum agar tidak memuat gambar tersebut.

Justeru, menurut saya pribadi, aspek kedua dari kartun itulah yang paling menyakitkan bagi umat ini. Nabi Muhammad digambarkan sebagai seseorang yang siap melakukan pembunuhan, apalagi dengan sorban yan g dipakai dikepala seperti bom yang siap meledak. Artinya, Nabi Muhammad itu memang mengajarkan “suicide bombing” yang tidak saja membunuh orang lain, tapi juga dirinya sendiri.

Penggambaran ini sangat menyakitkan. Muhammad SAW bagi seorang Muslim adalah sosok yang sangat dicintai, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan: "Tidak beriman di antara kalian hingga dia mencintai aku lebih dari mencintai dirinya, orang tuanya, dan anaknya”. (Al-Hadits). Umar pernah ditanya olehnya, “Apakah kamu cinta kepada Rasulullah wahai Umar?", Beliau menjawab: “Betul wahai Rasulullah SAW, tapi tidak melebihi kecintaan saya kepada diri saya sendiri". Rasulullah berkata: “Tidak wahai Umar. Kalau kamu cinta kepada Rasulullah, kecintaan itu harus melebihi dari kecintaan kamu kepada diri kamu sendiri”.

Sejenak Umar diam, lalu berkata, “Saya mencintai engkau wahai Rasulullah lebih dari kecintaan saya pada diri saya sendiriâ”. Rasulullah kemudian berkata: "Itulah makna kecintaan kepada Rasulullah wahai Umar”. (Hadits).

Dengan demikian, pelecehan kepada Rasulullah adalah bentuk pelecehan yang lebih menyakitkan ketimbang kepada diri umat Islam itu sendiri. Dan keinginan untuk membela Rasulullah lebih dari keinginan untuk membela diri sendiri. Inilah rahasianya, umat Islam saat ini bereaksi keras terhadap pembuatan kartun tersebut.

Selain itu, penggambaran Rasulullah sebagai "suicide bomber” secara langsung pula tuduhan kepada semua pengikutnya sebagai “suicide bomber”. Hal ini dikarenakan bahwa Muhammad SAW adalah ‘uswatun hasanah’ (contoh tauladan) bagi setiap Muslim. Sehingga kalau yang terbaik saja adalah pembunuh, maka semua yang mengikutinya juga adalah pembunuh. Maka tuduhan kepada Nabi Muhammad itu juga tuduhan kepada semua umat Islam di seatero dunia. Inilah yang menja dikan umat bereaksi hampir di semua penjuru dunia.

Pelecehan akal jernih

Penggambaran Rasulullah sebagai tukang bunuh itu adalah pelecehan akal sehat manusia, sekaligus pelecehan peradaban manusia yang dianggap modern itu. Sejarah membuktikan bahwa Muhammad SAW tidak saja dikagumi oleh pengikutnya, tapi beribu orang lain juga mengaguminya. Mulai dari Gandhi hingga ke Bernard Show dan ribuan intelektual dalam berbagai bidang telah memberikan pujian tinggi kepadanya.

Pada saat ribuan manusia di dunia barat masuk ke agama ini karena kagum kepada ajaran Rasulullah, masih ada segelintir manusia yang tertutupi oleh kebodohannya sendiri. Setiap hari puluhan atau mungkin ratusan non Muslim di dunia barat mengikuti ajaran Muhammad SAW. Ternyata masih ada segelintir mereka yang mengaku ‘civilized’ itu buta melihat ‘kenyataan’ di hadapan mata mereka sendiri. Mereka yang mengikuti ajaran Muhammad itu karena mereka memang ’intelligent’ (cerdik), dan bukan karena sekedar ikut-ikutan atau disuap para da’i seperti yang banyak terjadi dan dilakukan oleh para missionary di dunia lain.

Oleh karenanya, diterbitkannya kartun yang menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pembunuh itu adalah pelecehan yang nyata terhadap pikiran sehat manusia. Hanya mereka yang tidak memiliki pikiran sehat, dan hanya mereka yang buta realita dan sejarah yang memahami Rasulullah dengan persepsi yang seperti itu.

Freedom of Expression?

Alasan yang dipakai oleh harian Denmark untuk tetap bersikukuh tidak ingin meminta maaf adalah bahwa apa yang telah dilakukanya adalah kebebasan berpendapat atau freedom of expression. Bagi mereka, mempermainkan orang-orang panutan seperti Isa, Muhammad, Musa, dll., adalah hal biasa dan tidak ada apa-apanya untuk dipusingi.

Tapi benarkah menggambarkan seorang nabi sebagai ‘suicide bomber’ adalah sekedar kebeba san ekspresi? Nampaknya ada semacam ‘confusion’ di kalangan masyarakat barat dalam mengartikan kebebasan. Seolah kebebasan itu tidak memiliki pertimbangan-pertimbangan yang justeru membatasinya, sehingga kebebasan dapat dipertanggung jawabkan.

Bebas bereskpresi tapi sekaligus menyakiti orang lain adalah sebuah eskpresi yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya, kebebasan apa saja, termasuk kebebasan ekspresi mau tidak mau harus berlandaskan kepada sebuah tanggung jawab individu maupun social. Jika tidak, maka hidup ini akan menjadi kacau karena pelecehan kepada orang lain terjustifikasi oleh kebebasan (freedom).

Sebagai contoh, ada sebuah kebebasan yang disebut kebebasan memilih (freedom of choice). Setiap orang bebas memilih sesuai pilihan masing-masing. Tapi apakah memilih isteri orang untuk dipacari dapat dianggap ‘freedom of choice’ yang sehat? Dapatkah sikap ini dianggap sebagai kebebasan yang harus dihorm ati, atau sebaliknya sang suami berhak melakukan pembelaan?

Clash between Civilizations

Saya curiga, jangan-jangan kartun ini adalah pancingan lanjutan untuk menjustify kebenaran clash among civilizations, khususnya antara Islam dan dunia Barat. Nampaknya harian Denmark ini telah menjadi alat untuk memancing reaksi keras umat yang mengarak kepada clash permanent. Seolah-olah konsepsi-konsepsi barat seperti kebebasan tidak sama sekali sejalan dengan values yang dimiliki oleh Islam. Dan karenanya, memang konsep clash itu adalah benar.

Jika ini benar, maka sungguh manusia berada dalam jurang yang sangat berbahaya. Kita hidup dalam dunia "interdependable", di mana satu komunitas membutuhkan yang lain. Oleh karenanya, jika konsep clash among civilization dipromosikan secara vulgar, maka sekali lagi manusia berada dalam situasi yang serius.

Reaksi yang Islami

Umat Islam tentunya berhak untuk melakukan reaksi ke ras atas pelecehan terhadap panutan umat ini. Muhammad adalah bagian mendasar dari keimanan seorang Muslim. Keyakinan kepada ‘Laa ilaaha illah Allah’ tidak akan terwujud jika eksistensi Rasulullah terabaikan. Maka ‘Muhammadan Rasulullah’ adalah bagian kedua syahadat yang mutlak keberadaannya.

Oleh karena ini menyangkut masalah iman, maka sangat wajar jika menjadi sebuah hal yang sangat sensitif. Menyangkut sebuah ‘perasaan’ yang bisa saja membara. Penggambaran nabi Muhammad yang menyulut amarah iman pengikutnya. Apalagi, akahir-akhir ini memang masalah agama, dan khususnya Islam, menjadi sebuah penomena sensitif, yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan semua pihak.

Namun demikian, reaksi umat Islam seharusnya mengingatkan kita sebuah ayat: “Dan jika kami mencintai Allah, maka ikutlah kepadaku”. Artinya kecintaan kita kepada Allah SWT, dan dengan sendirinya juga kepada nabiNya, seharusnya digambarkan den gan mengikut kepada bagaimana kehidupan Rasulullah SAW. Sebuah kehidupan yang tegar dengan kebenaran, dan dengan menempuh cara-cara yang ‘non violent’.

Sepanjang sejarah hidup Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menempuh cara kekerasan untuk mencapai tujuan, kecuali dalam posisi mempertahankan diri. Artinya, metode Rasulullah dalam upaya mencapai tujuan mulia tidak pernah diekpresikan dengan cara-cara kekerasan.

Kita diingatkan bahkan jauh sebelum diangkat menjadi Rasul sekalipun, beliau telah menunjukkan karakternya, tidak saja sebagai seseorang yang cinta damai, tapi lebih dari itu beliau adalah inisiator perdamaian. Kita diingatkan oleh kisah pengembalian ‘Hajar Aswad’ ke tempat aslinya, yang hampir saja menjadikan pertumpahan darah di antara pemimpin kabilah-kabilah Arab. Beliaulah yang melahirkan ide cemerlang sehingga terhindarilah pertumpahan darah tersebut.

Kita diingatkan oleh beliau ketika keluar ke kota Thaif mencari peluang da’wah. Di sana justeru beliau dilempari batu oleh orang-orang gila dan anak-anak hingga darah beliau mengucurkan darah. Di saat-saat beliau terduduk kelelahan dan kehausan, datanglah malaikat menawarkan: “Jika engkau mau wahai Muhammad, maka gunung ini akan saya balik dan menghancurkan mereka semua”, katanya. “Tidak. Saya datang bukan untuk memusnahkan tapi untuk membawa petunjuk“, jawab Rasulullah SAW.

Beliau kemudian berdoa dengan doa yang cukup panjang. Tapi salah satu isi doa yang terkenal itu: “Ya Allah tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu”.

Rasulullah mengingatkan kita di saat beliau melakukan persetujuan dengan pembesar Mekah di awal tahun Hijrah. Salah satu isi perjanjian itu adalah, bahwa jika ada Muslim yang melarikan diri ke Madinah, maka Rasulullah harus mengembalikannya ke Mekah. Sebaliknya, jika ada yang masuk ke Mekah, maka tidak ada kewaji ban pembesar Mekah untuk mengembalikannya ke Madinah. Sebuah perjanjian yang berat sebelah, tapi diterima demi menjaga perdamaian.

Perjanjian ini juga mirip dengan perjanjian Hudaibiyah di kemudian hari. Bahkan Umar sempat protes dan tidak menerima persetujuan tersebut. Namun Rasulullah menerima perjanjian yang berat sebelah itu demi terjaganya perdamaian antara kaum Muslim di medinah dan kaum kafir di Mekah.

Mungkin bukti sejarah yang paling menakjubkan adalah sejarah penaklukan kota Mekah oleh Rasulullah SAW. Sepanjang sejarah hidup manusia telah banyak sejarah penaklukkan dan peperangan. Tapi satu-satunya penaklukan yang tidak menimbulkan pertumpahan darah, bahkan “general amnesty” segera diumumkan segera setelah Rasulullah dan pasukannya memasuki kota Mekah.

Bukti-bukti sejarah di atas dan terlalu banyak lagi yang tercatat oleh tinta emas sejarah Rasulullah SAW menunjukkan prilaku alami (the natural manner of) Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang bukan saja cinta damai, tapi telah membuktikan ‘kedamaian’ yang hakiki dalam kehidupannya.

Maka, dalam melakukan reaksi ini seharusnya mengikut kepada ‘uswah hasanah’ ini. Bukan dengan kekerasan dan tidak pula melakukan reaksi dengan melakukan hal-hal yang justeru bisa dijadikan ‘justifikasi’ oleh pihak lain untuk membenarkan tuduhan-tuduhan jahat mereka. Mereka ingin mendapatkan justifikasi lanjut bahwa umat Islam itu keras, emosional dan tidak rasional dalam berpikir.

Padahal, rasionalitas kita mengatakan membela kehormatan Rasulullah adalah sebuah tanggung jawab. Namun mereka akan membalik logika ini dengan mengatakan bahwa memang ‘nature’ orang-orang Islam itu adalah emosional dan kurang rasional.

Akhirnya, mari kita ingat ayat Allah: “Dan hamba-hamba Yang Maha Rahman adalah mereka yang berjalan di atas bumi ini dengan rendah hati. Dan jika orang-orang jahil menyapanya (mengganggunya) mereka merespon ‘salaamah’ (peace)”. (Al Furqan).

Kita juga seharusnya ingat: “Kebaikan dan keburukan itu tidaklah sama. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, sehingga orang yang bermusuhan dengan engkau seolah-olah sebagai teman yang setia”. (Fusshilat: 34).

Allahumma ihdi qaumi fa innahum laa ya’ lamuun” Amin!

Sumber : Hidayatullah.com dan swaramulim.net

Mengapa Rasulullah Muhammad SAW Begitu Dibela Umatnya?

Sunday, February 19th, 2006

Muhammad
Pelecehan terhadap Nabi rupanya tak berhenti. Menteri Italia Roberto Calderoli, juga memakai kaos bergambar kartun Nabi Muhammad. Tapi mengapa umat Islam selalu membela Muhammad? ( Akhirnya Menteri Italia Pakai Kaos Gambar Nabi Muhammad Mundur )

Rasulullah Muhammad saw., sosok yang amat dihormati kaum muslimin, tauladan yang paling ideal bagi setiap pribadi mukmin, perkataan dan perbuatan beliau terekam dalam lembaran-lembaran kitab, dengan menyertakan sanad dan rawi tsiqah yang menjaganya dari kedustaan. Sehingga, walau sudah 14 abad lebih jarak kita dengan Rasulullah saw. tapi kita masih bisa menelaah dan menghayati kalimat demi kalimat yang pernah beliau tuturkan.

Perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah saw, sendiri memiliki posisi yang amat tinggi dalam Islam, ia adalah sumber kedua setelah Kitabullah. Dan dalam penyampaiannya pun ada adab-adab tertentu yang harus dipegang oleh seorang muhadits, sebagaimana disebutkan Imam Adzahabi, bahwa Imam Malik mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian serta mengenakan pakaian yang bagus ketika hendak menyampaikan hadist (Al Muqidzoh, hal. 67).

Bahkan Allah telah berfirman: “Diri Nabi lebih berharga daripada jiwa-jiwa orang mukmin.” (Al Ahzab: 6). Dan diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata kepada Rasulullah saw., “wahai Rasulullah, demi Allah benar-benar engkau yang paling aku cintai, melebihi cintaku terhadap segala sesuatu, kecuali terhadap diriku sendiri”. Maka bersabdalah Rasulullah: “Tidak wahai Umar, sehingga engkau mencintai aku lebih dari cintamu terhadap dirimu sendiri”. Lalu berkatalah Umar ra: “Demi Allah wahai Rasulullah, benar-benar engkau yang paling aku cintai terhadap segala sesuatu hingga terhadap diriku sendiri.” Maka berkatlah Rasulullah saw: “Sekarang wahai Umar”. (HR. Bukhari)

Penghinaan dan Ideologi Kebebasan

Umat Islam di seluruh penjuru dunia tiba-tiba terperangah, ketika ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merendahkan kedudukan beliau dengan memvisualkan nya dalam bentuk karikatur melecehkan yang dipublikasikan Jyllan Posten, sebuah media massa yang diterbitkan di Denmark, kemudian dipublikasikan ulang oleh media-media di Jerman, Belanda, Itali, bahkan Rakyat Merdeka pun tidak mau kalah.

Dan yang amat menyakitkan lagi, pihak-pihak yang bersangkutan ada yang merasa tidak bersalah serta tidak mau meminta ma’af dan pemerintahnya enggan menindak para pelakunya, dengan alasan yang cukup praktis, bahwa hal itu menyangkut kebebasan berekspresi.

Kebebasan bagi Barat seakan-akan wahyu yang tidak boleh disentuh, tidak boleh dikritik, bahkan ideologi ini bisa mengalahkan wahyu-wahyu yang sebenarnya. Tidak sebatas itu, pihak Barat -sebagai bangsa-bangsa yang berkuasa- telah mengampanyekan ideologi ini -salah satunya- melalui jalur-jalur LSM dan mulai memaksakan paham kebebasan ini kapada negeri-negeri muslim serta menggunakannya sebagai senjata untuk menghadang berlakunya syari’at Islam.

Sikap congkak dan arogan yang dimiliki “kaum pemuka” yang hidup di zaman ini tidaklah berbeda dengan sikap “kaum pembesar” kafir ketika berhadapan dengan risalah yang dibawa para rasul.

Muhammad Qutub mengajak kita merenungi ayat-ayat Allah tentang reaksi para penguasa dan pembesar kaum-kaum terdahulu terhadap para rasul yang diutus untuk mereka, dalam Dirasat Qur’aniyah, hal 107 dia menukil:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa ditimpa azab hari kiamat”. Para pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”(Al A’raf: 59,60)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (Al A’raf: 65,66)

Perilaku yang serupa, juga ada pada kaum Tsamud dan penduduk Madyan,

Di setiap masyarakat jahiliyah selalu ditemukan “pemuka”, mereka adalah para pemimpin, bangsawan bagi hamba-hamba yang mentaatinya. Di masyarakat jahiliyah merekalah yang “memiliki” dan “menghukumi”. Yang membangun ’syari’at’ dari hasil pemikiran mereka, untuk menjaga pengaruh dan kekekuasaanya terhadap para “hamba”.

Dengan kekuasaan dan kemapanan yang dimiliki mereka mengadakan pemaksaan kapada yang lemah agar selalu tunduk terhadap paham dan hegemoni mereka.

Propaganda terus-menerus mereka lancarkan dengan segala sarana yang dimiliki, sebagai jalan utnuk mempertahankan kekuasaan serta memendung arus dakwah tauhid. Pendek kata, semua harus memiliki keyakinan sama dengan mereka, pandangan yang sama, hukum yang sama, jika tidak mereka tidak segan-segan untuk mengancam, memerangi, mengembargo, atau bahkan membasmi mereka yang enggan untuk tunduk.

Sesungguhnya loyalitas, tunduk dan taat hanyalah kepada Allah semata. Akan tetapi para “pemuka” ini menghandaki bahwa loyalitas hanyalah kepada mereka saja, dan taat hanya kepada mereka semata.

La ilaha ilallah bermakna bahwa sesunggunya kekuasaan hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya yang berhak menghukumi hanyalah Allah, yang menghalalkan dan mengharamkan, menilai baik atau buruk, membolehkan dan melarang hanyalah Allah. Akan tetap para “pemuka” ini menginginkan bahwa kekuasaan itu ada dalam genggaman tangan mereka, dan hanya mereka yang boleh menghukumi, sarta menghalalkan dan mengharamkan dengan cara mereka sendiri.

Walhasil, umat Rasulullah saw. saat ini juga sedang menghadapi “para pemuka” bumi yang berusaha memaksakan kehendaknya. Menghadang dakwah tauhid yang mereka serukan. Menekan kaum lemah dengan berbagai cara agar tunduk di bawah kekuasaan mereka.

“Pemuka-pemuka” yang menghendaki agar umat Islam mengikuti apa saja yang mereka putuskan tanpa perlu mereka menyanggah atau bertanya. Para “pemuka” yang siap membelanjakan harta mereka untuk menyebarkan ideologi dan ’syari’at’ versi mereka, sampai umat tunduk dan ’sujud’ dibawah telapak kaki mereka dengan lebel “kebebasan”.

Bahkan, jika perlu, mereka akan menghalalkan segala cara, diantaranya, termasuk melakukan image kepada sosok Muhammad, simbol kecintaan umat Islam seluruh dunia, sebagaimana baru-baru ini terjadi.

Sayangnya, para kaum ‘pemuka’, tak menyadari, begitu tinggi kedudukan Muhammad di mata umatnya, bahkan Allah SWT saja, sang Penguasa dan Pencipta Alam raya ini bersolawat padanya.

Dalam Firmannya: “Sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya bersholawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56).

Karena itu, kecintaan umat Islam di seluruh dunia terhadap agama ini dan kepada junjungannya bernama Muhammad, tak akan runtuh dengan cara apapun. Sebaliknya, cara-cara yang tidak elegan, termasuk dengan pelecehan dan penghinaan seperti itu, justru menjadi bumerang baru sebagai bukti pembelaan bagi kaumnya.

Sumber : Thoriq (Hidayatullah.com)
Swaramuslim.net

blank

Sunday, February 19th, 2006

Bingung mau nulis apa.. hikzz