Peluit Bola dan Peluit Polisi

Tahukah Anda bahwa peluit yang dipakai wasit sepakbola lahir di era yang sama dengan sempritan yang dipergunakan polisi di London.

Cerita tentang benda kecil berbunyi melengking ini bermula ketika seorang pengrajin bernama Joseph Hudson membangun pabrik khusus peluit di Birmingham, Inggris, pada era 1870-an.

Beberapa catatan menyebutkan, kemunculan pertama peluit di pertandingan sepakbola terjadi di tahun 1878 pada putaran II Piala FA antara Nottingham Forest melawan Sheffield Norfolk. Diyakini bahwa peluit klasik yang terbuat dari logam kuningan itu merupakan salah satu produk Hudson yang dibuat di tahun 1878.

Sebelumnya, untuk berkomunikasi dengan pemain wasit menggunakan saputangan, sebilah kayu, atau teriakan-teriakan.

Waktu itu pertandingan bola masih diawasi tiga "wasit" yang semuanya berada di pinggir (garis) lapangan. Dua yang pertama adalah "perwakilan" dari tiap-tiap tim yang bertanding. Jika mereka tidak mencapai kesepakatan tentang sesuatu, maka wasit ketiga akan bertindak sebagai mediator.

Teknologi peluit makin meningkat setelah Joseph Hudson menciptakan peluit pertama untuk kepolisian London di tahun 1833, buat menggantikan gerakan-gerakan tangan. Peluit itu sudah dilengkapi dengan vibrasi udara sehingga bisa didengar sampai sejauh satu mil. Bunyinya pun lebih unik dan "berkicau".

Sejak itu Hudson terus memproduksi bermacam-macam peluit. Setahun kemudian, dibantu anak laki-lakinya, ia menghasilkan peluit pertama berbentuk "kacang polong" yang memberi kontrol, reliabilitas, kekuatan lebih pada wasit.

Peluit itu mulai dijadikan perlengkapan wasit sejak 1891, setelah sistem wasit "netral" diperkenalkan dan ia ditugasi memimpin dari dalam lapangan.

Pada 1906 peluit dicetak dengan bahan-bahan vulkanik, tapi tidak sukses. Kemudian pada 1914 peluit plastik pertama berhasil diciptakan. Enam tahun kemudian peluit "kacang polong" itu dikecilkan ukurannya sehingga lebih nyaman di mulut penggunanya.

Seiring dengan perkembangan popularitas sepakbola, stadion makin ramai dikunjungi penonton. Pada 1930 peluit disempurnakan dan diberi kekuatan bunyi lebih agar bisa bersaing dengan suara gemuruh di stadion.

Sumber : Andi Abdullah Sururi - detikSport 

Leave a Reply