Islam Liberal dan Korupsi

SuperimanIslam Liberal adalah nama resmi pemikiran sesat, yang benih-benihnya sudah ada sejak lama, setidaknya sejak awal 1970-an, dengan tokoh-tokohnya antara lain Harun Nasution, Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Munawir Sjadzali, hingga ke generasi Ulil (keponakan Gus Dur tokoh NU).

Pada masa Ulil inilah fikrah nyeleneh bin sesat diproklamirkan secara formal dengan nama Islam Liberal. Aktivitasnya banyak, karena mendapat dukungan dana antara lain dari The Asia
Foundation.

Salah satu aktivitas misionaris Liberal ini adalah menyusun Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang isinya menghalalkan yang haram (seperti nikah beda agama dan sebagainya), juga mengharamkan yang halal.

Counter Legal Draft KHI ini diusung melalui sebuah kelompok kerja (pokja) bernama Pokja Pengarusutamaan Gender Departemen Agama RI yang dibentuk Menteri Agama Said Agil Al-Munawwar tahun 2004 lalu.

Sebagaimana kita ketahui, Menteri Agama Said Agil Al-Munawwar adalah tersangka kasus korupsi dana haji (Dana Abadi Umat) di Departemen Agama, yang nilainya ratusan miliar rupiah. Said Agil juga aktif di NU sebagai anggota Majelis Syuro.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Departemen Agama, tindak korupsi sangat dahsyat, terjadi di seluruh sektor, di seluruh bidang, di seluruh lini, di seluruh jajaran. Bukan hanya masalah haji saja, tetapi menyangkut berbagai masalah, dan sudah berlangsung sejak lama.

Beberapa misonaris Liberal yang pernah menjadi Menteri Agama antara lain Mukti Ali, Munawir
Sjadzali. Sedangkan Djohan Effendi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Litbang Departemen Agama, adalah penulis Kata Pengantar pada buku Ahmad Wahib.

Departemen Agama seolah-olah lekat dengan NU. Sejak zaman Soekarno hingga kini, Menteri Agama RI lebih sering dijabat oleh elite NU. Namun ‘prestasi’ yang paling menonjol dari Depag adalah tindak korupsi yang sangat gila-gilaan.

Barangkali, kalau pemerintah SBY-Kalla mau bersungguh-sungguh membasmi korupsi di Departemen Agama, sebaiknya jangan pilih orang berpaham Liberal jangan pilih orang NU. Pilihlah orang yang independen (bukan dari ormas tertentu), namun berakhlaq karimah, berilmu dan berwawasan, mengerti agama secara dalam, teruji kesalehannya, juga mempunyai kemampuan manajerial yang mumpuni, serta memiliki keberanian melakukan pemberantasan terhadap mafia dan tikus yang bersarang di Departemen Agama.

http://www.swaramuslim.net/

Leave a Reply