Archive for July, 2005

P r o l o g

Saturday, July 16th, 2005

By : PADI

C Em C Em

C
Angin bertiup. menyadarkan aku
Em
Tepat saat aku mendiamkan diri
Am                       G          D
Apa yang telah terjadi…kepada diriku

    C
    Apakah bulan memihak kepadaku
        Em
    Dan pijarnya masihkah menghiasi malam
    Am                          G         D
    Aku akui kesalahan ini, tak harus aku ulangi
    C   Em  Am D
        Oh…
C
Seperti halnya engkau sang mentari
    Em
Tak henti menyinari seluruh bumi
Am                                    
Begitu juga…adanya diriku
     G            D
Tak akan berhenti langkahku

    C
    Langit memang berlapis adanya
    Em
    Samudra pun membentang oh…luasnya
    Am                                    
    Tak ubahnya diriku adanya
      G           D
    Takkan usai semangatku
    C   Em  Am D
        Oh…

C
Pasang air menyapu kerasnya karang
    Em
Takkan goyah meskipun harus diterjang
Am                                    
Kini aku mencoba
G               D
Mengikrarkan janji

Padi

Chord kiriman: Erwin Maulana

Selamatkan IAIN Dari Permurtadan

Friday, July 8th, 2005

Pemurtadan_iainAda upaya sistematis pemurtadan pada mahasiswa IAIN akhir-akhir ini. Itulah sebabnya, patut diketahui alasan, kenapa IAIN dan UIN perlu dicermati dan diwaspadai. Target pemurtadan itu bisa dirasakan, ketika mahasiswa IAIN-UIN begitu terkagum-kagum dengan pemikiran kaum orientalis, diantaranya Ulil Absar Abdalla, dedengkot Jaringan Islam Liberal (ML).

Fenomena maraknya kelompok yang menamakan dirinya sebagai Islam Liberal, belakangan semakin berkembang saja di kampus IAIN maupun UIN. Bahkan ditenggarai justru IAIN dan UlN-lah yang menjadi lahan subur maraknya barisan pengusung paham liberal. Sehingga pengusung paham pluralisms agama, nikah beda agama, pikiran-pikiran yang keluar dari mainstream Qur’an-Sunnah banyak sekali dilahirkan dari rahim IAIN.

Kendati masih acte kelompok mahasiswa di IAIN dan UIN yang memegang teguh pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Hanya saja, mereka seperti tenggelam. Mahasiswa kelompok ini seolah kalah publikasi. Maklum, Mahasiswa IAIN-UIN yang sering nyeleneh karena otak liberalnya itu, telah dibackingi oleh Amerika, terutama dari segi dana, sehingga anak-anak muda di “kampus hijau” itu tidak menemui kesulitan ketika harus mengadakan forum-forum diskusi yang nara sumbernya didatangkan sendiri dari kalangan mereka yang juga liberal dan sekuler. Dengan kata lain, misi dan propaganda Barat dapatterakomodir oleh segelitir anak-anak IAIN-UIN yang belakangan mulai terkikis akidah lslamnya.

Hingga saat ini tokoh-tokoh liberal di IAIN sudah semakin terang-terangan menghina Allah, dan ajarannya terns menerus dijajakan ke masyarakat. Lebih ironis lagi, keliberalan itu dijadikan kurikulum dan diwajibkan bagi para mahasiswanya, Bahkan kini ditambah pelajaran hermeneutika untuk mengganti metode tafsir Al Qur’an.

Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, dalam acara bedah buku “Ada Pemurtadan di IAIN” beberapa waktu lalu, ada upaya sistematis pemurtadan pada mahasiswa IAIN akhir-akhir ini. Itulah sebabnya, patut diketahui aiasan, kenapa IAIN dan UIN perlu dicermati dan diwaspadai. Pertama, adanya ajakan dzikir dengan lafal Anjing hu Akbar oleh mahasiswa seniorfakultas Ushuluddin (filsafat) IAIN Bandung kepada mahasiswa baru dalam acara ta’aruf, September 2004. Termasuk adanya pernyataan, “Selamat bergabung di area bebas Tuhan” di acara yang sama.

Alasan kedua, adanya dosen IAIN yang di depan kelas dengan bangganya mengaku sudah tiga bulan tidak shalat. Ketiga, Zainun Kamal (dosen UIN Jakarta) telah menikahkan Muslimah dengan lelaki Kristen di Hotel Kristal Pondok Indah Jakarta. Keempat, adanya mahasiswa IAIN Bandung yang dengan bangga mengenakan kalung salib dan zionis pada lehernya, dan masih banyak lagi.

Sejak masuknya para orientalis ke kampus ini, sudah cukup banyak wacanayang belakangan tak sekedar lagi wacana. Tapi sudah menjadi sebuah paham, ideology, dan “agama baru”. Wacana kotor dan beracun yang hendak ditularkan itu antara lain: “Surga Tuhan itu nanti mungkin terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama”; semua agama sama, semuanya menunju kebenaran; tidak boleh mengklaim dirinya yang paling benar; Syariat Islam akan membuat kaum perempuan menderita; menghalalkan nikah beda agama; menggagas penyamaan waris antara laki-laki dan perempuan; menghalalkan goyang ngebor; mengakui keberadaan kaum gay dan lesbi; mengatakan Al Qur’an itu produkbudayadan sudah tidak relevan lagi; menyerukan kondom sebagai solusi, dan sebagainya.

Gejala sesat menyesatkan lewat jalur sistematis yaitu perguruan tinggi Agama Islam se-lndonesia, justru dibiarkan oleh pitiak akademik (kampus), termasuk Departemen Agama sendiri. Seolah-olah, pemikiran sesat itu dibiarkan. berkembang, dan betul-betul dijadikan pegangan mahasiswa sebagai pendekatan keiimuan dalam memahami Islam.

Sarang Pemurtadan?

Dikatakan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, akar masalah lancarnya pemurtadan dan kristenisasi adalah sistem pendidikan Islam yang telah diselewengkan. Kurikulum perguruan tinggi Islam, nyatanya tidak Islami lagi, karena diambil dari hasil eksperimen dan rancangan orientalis Barat yang misinya adalah penjajahan, kristenisasi, dan westernisasi (pembaratan).

Bahkan kurikulum IAIN, UIN, STAIN, dan STAIS kini penekanannya lebih pada socio histories. Lebih bahaya lagi, motode yang digunakan di perguruan tinggi Islam itu adalah mencoba menafsiri Bible, yakni apa yang mereka sebut hermeneutika. Perlu diketahui, hermeneutika adalah metode tafsir Bible, yang di kembang kan oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode interpretasi teks secara umum. Oleh sebagian cendekiawan Muslim, metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai alternatif dari metode pemahaman Al Quran yang dikenai sebagai ilmu tafsir. Jika metode atau cara pemahaman Al Quran sudah mengikuti metode kaum Yahudi dan Nasrani dalam memahami Bible, maka patut dipertanyakan, bagaimanakah masa depan kaum Muslimin di negeri ini nantinya?

“Akibat itu, dosen IAIN-UIN yang tadinya mendidik mahasiswa agar memahami Islam, berubah mengajari mahasiswa agar bingung terhadap Islam. Atau paling tidak menjadikan anak didik yang kerjanya mengkritisi Islam, bukan mengamalkannya dengan taat kepada Allah dan Rasulnya. Nah, kalau dosennya saja bingung, apalagi mahasiswanya,” ujar Hartono.

Tapi, apa kata dosen IAIN-UIN sendiri saat membela mahasiswanya yang nyeleneh: “Ini sekadar wacana”, “ini pembahasan akademis”, “jangan dimaknakan secara tekstual, literal, atau secara dangkal”. Dalihnya lagi, “kita perlu Islam Progresif”, “kita perlu Islam Emansipatoris”, “jangan suka merasa benar sendiri”, dan sebagainya. Jadi itu semua adalah senjata mereka untuk menutupi kekacauan pemahaman mereka, sekaligus menipu mahasiswa agar mudah dijebak kekacauan pemahaman Islam model mereka.

Dengan sistem pendidikan Islam yang kacau seperti itu, maka para orang tua yang menguliahkan anak-anaknya dengan harapan agar menjadi ulama yang saleh menjadi terabaikan. Yang muncul justru, sarjana-sarjana agama Islam (S.Ag) yang pemahaman Islamnya tidak berlandaskan Al Quran dan As-Sunnah dengan manhaj (metode pemahaman) salafus shalih (generasi awal Islam, sahabat Nabi SAW, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Tentu tidak dipantas bila titel S.Ag kemudian diplesetkan orang menjadi “SarjanaAuahGelap”.

Tampaknya sudah bukan rahasia umum lagi, jika kampus IAIN – UIN atau perguruan tinggi Islam lainnya, menjadi target pemurtadan dan Kristenisasi yang dilakukan oleh para orientalis, kaum kafir dan muanfiqin. Yang pasti, pemurtadan dan kristenisasi yang dilancarkan, tidak semata-mata mengiming-imingi harta dan semacamnya kepada kaum Muslimin agar masuk Kristen, namun mereka mulai gencar menempuri berbagai cara dan menyiapkan strategi canggihnya untuk merealisasikan proyek pemurtadan, bukan hanya di perguruan tinggi Islam, tapi juga menyusupi pesantren-pesantren, bahkan sampai majelis taklim kaum ibu di kampung-kampung, hingga musholla-musholla. Itu diakui sendiri oleh Ulil Absar Abdalla yang terobsesi menyampaikan pesan Islam Liberal hingga ke musholla.

Sekarang ini cara konvensional (mengiming-imingi supermie dan sejenisnya) plus teori Snouck Hurgronje masih dijalankan, namun kemudian polanyatelah ditingkatkan menjadi bentuk-bentuk iming-iming dana segar untuk menjalankan misi pemurtadan, kristenisasi, dan perusakan Islam. Sehingga cara-cara kristenisasi model lama itu dipadukan, lalu dimodifikasi, maka tercapailah target Kristenisasi, pemurtadan, dan penjauhan umat dari Islam secara sistematis (tiga paket).

“Jadi dana-dana yang tadinya untuk disebarkan kepada masyarakat umum (Muslimin) untuk dijadikan korban, kini diubah sistemnya agar lebih efektif, yaitu dikumpulkan menjadi satu, diberikan kepada tokoh-tokoh Islam plus lembaga-lembaganya, lalu disetir agar para tokoh Islam beserta lembaga-lembaganya itu mengoperasionalkan tiga paket tadi. Jadi paket-paket dana itu sebagai upah jasa pemasaran paket materi perusakan Islam, yang sejak awal memang didesign dengan rapi, dan canggihnya,” tandas Hartono.

Ihwal dana segar dari Amerika sebagai paket pemurtadan, KH. Ahmad Kholil Ridwan dari BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) mengatakan, “Saya serukan kepada para kiai pesantren agar tidak mau menerima dana dari Amerika lewat Departemen Agama sebesar Rp. 50 juta, terutama kalau disuruh mengubah kurikulum pesantren model mereka.”

Bisa dirasakan, bila target pemurtadan itu ditujukan kepada generasi muda Islam, lebih khusus lagi adalah mahasiswa IAIN-UIN dimanapun berada. Tak heran bila, mahasiswa IAIN menyebar ke pelbagai paham dan aliran, sebut saja, seperti aliran sesat Ahmadiyah, LDII, JIL, dan sebagainya. Bila menyaksikan sendiri, di setiap diadakan seminar atau diskusi-diskusi agama, hampir sebagian besar mahasiswa IAIN begitu mengagumi pemikiran dedengkot JIL, Ulil Absar Abdalla. Mereka (mahasiswa) bahkan memberi aplus untuk tokoh muda NU itu, setiap kali menjabarkan kesesatannya.

Tentu bukan hanya sosok Ulil yang sering dijadikan nara sumber dalam sebuah forum diskusi. Masih banyak stock pengusung JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menjadi acuan mahasiswa IAIN-UIN. Para pembicara itu, ada yang diantaranya dari dosen IAIN-UIN sendiri atau mantan IAIN. Tokoh Islam Liberal itu adalah: Cak Nur, Abdul Munir Mulkhan (Wakil Rektor UIN Jogjakarta), Djohan Effendi, Gus Dur, Zainun Kamal (dosen UIN Ciputat), Kautsar Azhari Noer (dosen UIN Jakarta), Masdar F. Mas’udi (alumni IAIN Jogjakarta), Luthfi Assyaukani (dosen Paramadina), Prof. Dr. M.Amien Abdullah (Rektor IAIN Jogjakarta), Taufik Adnan Kamal (dosen Ulumui Qur’an IAIN Makasar), Abdul Moqsith Ghazali (alumni IAIN), Dr. Siti Musdah Mulia (dosen pascasarjana UIN Jakarta), Hussein Muhammad (pengasuh ponpes Darut Tauhid Cirebon), dan sebagainya.

Tahun lalu (September 2004), misalnya, orang-orang IAIN atau UIN mendatangkan Nasr Hamid Abu Zaid yang sudah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, diantaranya karena tulisan-tulisan dan pehdapatnya yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah produk budaya.

Target orientalis terhadap perguruan tinggi Islam, seperti IAIN atau UIN, memang harus diwaspadai. Mereka menghendaki agar pemikiran generasi muda Islam diracuni dan dikacaukan. Bahkan bukan hanya dikacaukan, tapi dimurtadkan dengan pola yang sangat sistematis. Minimal, generasi muda Islam menjauhi ajarannya (meninggalkan shalat), mengagumi Barat sebagai ideology. Ujung-ujungnya adalah bergaya hidup sekuler, jauh lebih liberal dari Barat itu sendiri.

Percaya atau tidak, Departemen Agama RI punya peran sendiri untuk mensekulerkan negeri ini, yakni dengan membuat grand design strategy yang intinya menegaskan: apabila Indonesia ingin maju/modern, Indonesia harus dibangun menjadi negara sekuler. Untuk itu agama harus dipisahkan dari urusan negara. Agama adalah urusan pribadi-pribadi. Lembaga-lembaga resmi agama harus dihapuskan dari tugas pemerintahan sebab lembaga tersebut mempersubur dan menjadi akar keberadaan agama dan umat Islam yang dianggap faktor penghambat modernisasi. Demikian diakui oleh mantan penjabat tinggi Depag. Kafrawi Ridwan yang juga mantan Ketua Umum PPDMI.

Adalah tugas umat Islam semuanya untuk menyelamatkan IAIN dari tangan-tangan liberal sekular yang semakin gencar dan bahu membahu menghancurkan IAIN, sehingga keberadaannya dapat dikembalikan ke garis Islam yang sebenarnya. Semoga saja, IAIN tidak seperti yang diplesetkan orang, yakni: Ingkar Allah ingkarNabi. Jubah, titel tidaklah menjadikan seorang lulusan IAIN-UIN lebih mulia, ketika dirinya malah semakin jauh dari Al Quran dan As-Sunnah. (Amanahonline)

Ustadz Drs. H. Hartono Ahmad Jaiz, Perang terhadap JIL

Di kalangan komunitas kampus, bukan rahasia lagi bahwa orang yang paling sengit menentang pemikiran Ulil Absar Abdallah dengan ketompok Jaringan Islam Liberalnya adalah Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, pria kelahiran Boyolali 1 April 1953. Sudan beberapa buku ditulisnya untuk mengcounter pembaruan pemikiran gaya Jaringan Isiam Liberal (JIL) yang ditudingnya menyesatkan. Itu pula sebabnya, kelompok JIL seringkali mencap Ustadz Hartono sebagai seorang yang suka mengkafirkan orang lain.

Belum lama ini Ustadz Hartono baru saja selesai menulis buku kontroversial berjudul Ada Pemurtadan di IAIN (Penerbit Pustaka Ai-Kautsar). Buku tersebut beberapa waktu lalu dibedah di kampus Universitas Islam Negeri (DIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. UIN adalah penjelmaan IAIN. Tentu saja acara itu cukup ramai, kalau tak hendak dikatakan menghebohkan. Tak sedikit mahasiswa UIN yang tertarik mengikutinya, apalagi penulis buku, Ustadz Hartono sendiri hadir berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Ulil Absar dan Abdul Moqsith Ghazali yang juga sama-sama berpikiran liberal.

Bukan sesekali Ustadz Hartono mendapat serangan balik dari Ulil. Ironisnya, setiap kali Ulil bicara, mahasiswa UIN menyambutnya dengan tepuk tangan tanda setuju. Apakah ini suatu bukti bahwa banyak mahasiswa UIN telah tersusupi pemikiran-pemikiran JIL? Alasan itulah agaknya yang mendorong Ustadz Hartono mengungkapkan telah terjadi pergeseran akidah di kampus UIN. Setidaknya, ia ingin mengimbangi, bahkan membendung, jangan sampai mahasiswa UIN diracuni oleh paham-paham yang nyleneh, sesat dan menyesatkan.

Ada sejumlah alasan, kenapa Ustadz Hartono v mengungkapkan adanya upaya sistematis pemurtadan pada mahasiswa UIN akhir-akhir ini. Pertama, tentang adanya ajakan zikir dengan lafal Anjing hu Akbar oleh mahasiswa senior fakultas Ushuluddin (filsafat) IAIN Bandung kepada mahasiswa baru dalam acara ta’aruf, September 2004 Termasuk adanya pernyataan, “Selamat bergabung di area beb Tuhan” di acara yang sama.

Alasan kedua, adanya dosen IAIN yang di ruang depan para mahasiswanya) dengan bangganya mengaku tiga bulan tidak shalat. Ketiga, Zainun Kamal (dosen UIN Jakarta) telah menikahkan seorang Muslimah dengan lelaki Kristen di Hotel Kristal, Pondok Indah, Jakarta, dan masih banyak lagi.

Yang mengherankan, menurut Ustadz Hartono, adalah bahwa gejala sesat menyesatkan lewat jalur sistematis yaitu perguruan tinggi Agama Islam se-Indonesia, justru dibiarkan oleh pihak akademik (kampus), termasuk Departemen Agama sendiri. Seolah-olah, pemikiran sesat itu dibiarkan berkembang, dan betul-betul dijadikan pegangan mahasiswa sebagai pendekatan keilmuan dalam memahami Islam.

“Adalah tugas umat Islam semuanya untuk menyelamatkan IAIN dari tangan-tangan liberal sekuler yang semakin gencar dan bahu membahu menghancurkan IAIN, agar dapat dikembalikan ke garis Islam yang sebenarnya.

Semoga saja, IAIN tidak seperti yang diplesetkan orang, yakni: Ingkar Allah
Ingkar Nabi,
” ujar Ustadz Hartono yang banyak meneliti tentang aliran-aliran dan paham sesat di Indonesia.

Islam Liberal dan Korupsi

Friday, July 8th, 2005

SuperimanIslam Liberal adalah nama resmi pemikiran sesat, yang benih-benihnya sudah ada sejak lama, setidaknya sejak awal 1970-an, dengan tokoh-tokohnya antara lain Harun Nasution, Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Munawir Sjadzali, hingga ke generasi Ulil (keponakan Gus Dur tokoh NU).

Pada masa Ulil inilah fikrah nyeleneh bin sesat diproklamirkan secara formal dengan nama Islam Liberal. Aktivitasnya banyak, karena mendapat dukungan dana antara lain dari The Asia
Foundation.

Salah satu aktivitas misionaris Liberal ini adalah menyusun Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang isinya menghalalkan yang haram (seperti nikah beda agama dan sebagainya), juga mengharamkan yang halal.

Counter Legal Draft KHI ini diusung melalui sebuah kelompok kerja (pokja) bernama Pokja Pengarusutamaan Gender Departemen Agama RI yang dibentuk Menteri Agama Said Agil Al-Munawwar tahun 2004 lalu.

Sebagaimana kita ketahui, Menteri Agama Said Agil Al-Munawwar adalah tersangka kasus korupsi dana haji (Dana Abadi Umat) di Departemen Agama, yang nilainya ratusan miliar rupiah. Said Agil juga aktif di NU sebagai anggota Majelis Syuro.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di Departemen Agama, tindak korupsi sangat dahsyat, terjadi di seluruh sektor, di seluruh bidang, di seluruh lini, di seluruh jajaran. Bukan hanya masalah haji saja, tetapi menyangkut berbagai masalah, dan sudah berlangsung sejak lama.

Beberapa misonaris Liberal yang pernah menjadi Menteri Agama antara lain Mukti Ali, Munawir
Sjadzali. Sedangkan Djohan Effendi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Litbang Departemen Agama, adalah penulis Kata Pengantar pada buku Ahmad Wahib.

Departemen Agama seolah-olah lekat dengan NU. Sejak zaman Soekarno hingga kini, Menteri Agama RI lebih sering dijabat oleh elite NU. Namun ‘prestasi’ yang paling menonjol dari Depag adalah tindak korupsi yang sangat gila-gilaan.

Barangkali, kalau pemerintah SBY-Kalla mau bersungguh-sungguh membasmi korupsi di Departemen Agama, sebaiknya jangan pilih orang berpaham Liberal jangan pilih orang NU. Pilihlah orang yang independen (bukan dari ormas tertentu), namun berakhlaq karimah, berilmu dan berwawasan, mengerti agama secara dalam, teruji kesalehannya, juga mempunyai kemampuan manajerial yang mumpuni, serta memiliki keberanian melakukan pemberantasan terhadap mafia dan tikus yang bersarang di Departemen Agama.

http://www.swaramuslim.net/

KELOMPOK LIBERAL ITU AGEN PENJAJAH

Sunday, July 3rd, 2005

KH. M. Shiddiq al-Jawi:
Saat ini di tengah kita muncul kelompok liberal. Mereka menyerukan ide-ide liberal yang dibungkus dengan nama Islam. Tidak jarang mereka mengutip dalil dan pernyataan para ulama untuk mendukung ide mereka. Hal itu akan dapat membingungkan umat dan bisa membawa mereka ke alam pemikiran liberal. Namun, sayang, sebagian dari umat masih belum menyadari bahaya itu, dan belum mengenali jatidiri, motif, tujuan dan hal-hal berkaitan dengan kalangan liberal dan agenda mereka.

Untuk mengupas masalah ini, kami menghadirkan wawancara singkat dengan KH. M. Shiddiq al-Jawi, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPD I HTI Proprinsi DIY.

Ustadz, belakangan muncul kelompok liberal semisal JIL yang getol menyerukan ide-ide liberalisasi Islam. Bagaimana Ustadz memandang fenomena ini?

Menurut saya, fenomena ini harus dipandang dari dua sisi, sisi ideologis dan politis. Secara ideologis, kaum liberal bertujuan menundukkan Islam pada peradaban dan ideologi Barat. Ini dari perspektif ideologis. Kalau dari sisi politis, JIL dan semacamnya adalah alat politik Barat untuk mendominasi umat Islam. Mengapa bisa begitu? Sebab, faktanya, kekuatan politik yang mendominasi dunia adalah Barat yang sekular, sedangkan JIL itu kan ideologinya juga sekular. Klop, kan? Kesamaan ideologi ini jelas akan memunculkan kesamaan visi, misi, dan agenda. Di posisi ini kaum liberal itu sebenarnya adalah agen penjajah. Mengapa? Sebab, penjajah selalu ingin agar umat Islam mengikuti Barat dalam segala hal. Tapi, itu sulit terjadi karena bagaimanapun merosotnya, umat Islam masih tidak mau mempraktikkan sesuatu kalau tidak mendapat pengesahan agama. Maka di sinilah, kaum liberal datang untuk membujuk umat agar mau mengikuti peradaban Barat itu, dengan memperalat agama Islam sebagai landasan pembenarannya. Itulah kerjaan kaum liberal.

Mengapa bisa muncul kelompok semacam ini di tengah-tengah umat ini, Ustadz?

Masyarakat kita sekarang ini kan cenderung sekular dan liberal. Maka kalau ‘habitat’-nya demikian, wajar kalau lahir kaum liberal. Maksud saya, dalam konteks sekarang, kemunculan kelompok liberal justru banyak difasilitasi dan dipicu oleh sistem yang ada, seperti sistem politik, ekonomi, dan pendidikan. Semuanya adalah impor dari Barat sekular. Masalahnya, semua sistem itu tak akan bisa berjalan baik tanpa budaya yang sekular juga. Nah, yang ada dalam sistem-sistem itu baru prosedur formalnya, tanpa budaya sekularnya. Di sinilah kaum liberal lalu lahir guna menanamkan budaya sekular agar sistem sekular itu bisa berjalan baik. Dalam bahasa mereka, sekarang ini yang ada baru ‘demokrasi prosedural’ semisal tahapan Pemilu, belum disertai ‘demokrasi substansial’ seperti kebebasan berpendapat. Nah, kaum liberal ingin agar sistem sekular yang ada menjadi kâffah, yaitu bukan sekular sebatas prosedur formal, tapi juga disertai budayanya. Itulah hakikat demokratisasi yang jadi tujuan mereka.

Dalam sejarah, untuk menghancurkan Khilafah dan menghadang Islam, Barat sering menggunakan antek-antek mereka dari kalangan kaum Muslim sendiri. Apakah kemunculan kelompok Muslim liberal ada hubungannya dengan makar Barat itu, Ustadz?

Hubungannya jelas ada. Begini. Pada prinsipnya, kan Barat itu punya satu metode khas untuk menyebarkan ideologinya di negeri-negeri Islam, yaitu penjajahan; bisa militer, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya. Setelah menjajah, mereka mengeksploitasi. Itu pasti. Untuk masing-masing bidang penjajahan itu, Barat punya agennya sendiri-sendiri dari kalangan umat Islam yang berkhianat. Nah, kaum liberal itu adalah agen Barat di bidang budaya (tsaqâfah) yang bergerak di bidang pemikiran atau ideologi. Tujuannya adalah menghancurkan Islam di satu sisi dan memenangkan sekularisme di sisi lain.

Ada penelusuran dari sebagian pihak bahwa di balik fenomena Muslim liberal itu kental unsur uang (materi). Menurut Ustadz, apa motif mereka?

Saya kira benar. Konon draft CLD KHI dibiayai The Asia Foundation sebesar Rp 6 miliar. JIL sendiri mendapat support dana The Asia Foundation sebesar Rp 14 miliar pertahun. Jadi, ada simbiose mutualisme di sini. Sebab, Barat itu kan ingin mensekularkan umat Islam. Lagi pula, mereka punya banyak uang hasil dari mengeksploitasi umat Islam. Tapi, saya kira, uang bukan satu-satunya motif. Ada motif lainnya, semisal motif ketenaran, motif ilmiah, dan mungkin, motif spiritual. Ulil Abshar Abdalla pernah menyatakan, JIL ingin mewujudkan “sekularisme yang mantap dan spiritual yang kokoh.” Saya pikir, ini cukup menggelikan dan agak gila. Sebab, spiritualitas macam apa yang bisa diwujudkan dalam tatanan sekularisme? Di Barat yang sekular saja banyak kaum muda yang tidak pernah ke gereja.

Menurut saya, motif utama kaum Muslim liberal itu adalah motif ideologis. Sebab, ideologi Kapitalisme sekular tampaknya memang telah merasuk ke dalam jiwa mereka. Contohnya isu sekularisme. Kaum liberal sangat fanatik dan tergila-gila dengan sekularisme. Bahkan, di situs mereka dikatakan bahwa sekularisme itu berkah bagi agama-agama, karena, katanya, sekularisme bisa meredakan berbagai ekses jika agama dan negara menyatu. Padahal setelah menjadi sekular, Barat tidak menjadi lebih baik. Sains dan teknologi Barat memang lebih maju. Akan tetapi, secara moral, apa lebih baik? Secara spiritual, apa lebih hebat? Nggak, kan. Setelah ada sekularisme, dunia makin mengerikan dan hancur-hancuran, karena ada imperialisme, Perang Dunia I dan II, pemboman Hiroshima dan Nagasaki, dan sekarang kebijakan unilateral (satu kutub, red.) AS yang arogan di Afghanistan dan Irak. Apa itu lebih baik? Kaum liberal pura-pura tak tahu semua itu, dan karena fanatik, seenaknya berkata, “Sekularisme berkah bagi agama.” Nah, fanatisme yang ekstrem terhadap sekularisme inilah yang hendak mereka tularkan kepada generasi muda Islam. Saya lihat ini motif utamanya.

Apakah mereka itu sudah bisa dikategorikan pengemban ide Barat dan ideologi Kapitalisme, Ustadz?

Saya kira, benar. Mereka bisa digolongkan sebagai pengemban ideologi Kapitalisme, bukan pengemban ideologi Islam. Islam hanya dijadikan ‘kosmetik luar’ saja. Di bagian dalamnya adalah ideologi Barat. Jadi, segala macam pemikiran kaum liberal harus dikategorikan sebagai pemikiran bukan Islam. Sangat tidak betul kalau ada anggapan ide-ide mereka merupakan bagian dari khazanah pemikiran atau pemahaman Islam. Sebab, berbagai mazhab atau aliran dalam Islam, walau pun berbeda-beda pemahaman cabangnya, tetap sepakat akan hal-hal pokok dalam akidah dan syariat Islam. Kaum liberal seperti JIL tidak sepakat. Dalam masalah akidah, mereka mengadopsi teologi inklusif yang mengatakan semua agama benar. Apa itu masih bisa dianggap akidah Islam? Dalam hal syariat Islam, JIL secara ekstrem dan sombong mengatakan, syariat Islam itu tidak ada. Syariah hanya karangan ulama belaka, atau yang ada hanya sunnatullah (hukum alam, red.). Subhanallâh…Coba, apa ada mazhab yang menolak eksistensi syariat Islam seperti itu? Nggak ada, kan?

Ustadz, ada dari mereka yang alumni pesantren, Perguruan Tinggi Islam, bahkan sebagian mereka lulusan Timur-Tengah, di antaranya Al-Azhar. Menurut Ustadz, mengapa mereka bisa terpeleset seperti itu?

Dalam hal ini, kaum liberal memang ada yang sebelumnya mempunyai pengetahuan Islam yang luas. Ilmu kalam, fikih, tasawuf, tafsir, hadis, dan macam-macam lah. Tapi, semua itu dipelajari secara dogmatis, tanpa daya pikir kritis, dan cenderung dalam bentuk hapalan. Akibatnya, hati sebenarnya tidak puas. Sebaliknya, ketika bersentuhan dengan ide Barat, mereka memikirkannya secara sadar, tahu benar berbagai argumentasinya, latar belakangnya, dan seterusnya; lalu mereka mengadopsinya secara sepenuh hati. Maka di sinilah, mereka terpeleset. Lalu terjerembab.

Apakah ada yang salah dalam proses pembelajaran Islam mereka? Lalu proses pembelajaran Islam itu seharusnya bagaimana, Ustadz?

Ya, ada yang salah. Sebab, mereka menerima Islam bukan secara rasional, tetapi secara dogmatis. Ketika belajar Islam, proses berpikir yang cerdas tidak difungsikan. Mungkin karena literatur Islam yang mereka baca tidak cukup argumentatif. Sebaliknya, mereka menerima ideologi Barat secara sadar, melalui proses berpikir yang rasional. Menurut saya, pembelajaran Islam harus memenuhi 3 aspek. Pertama, harus rasional, maksudnya pengkajian materi ajaran Islam harus melibatkan proses berpikir bagi pengkajinya, bukan bersifat dogmatis atau doktriner. Kedua, harus ada pembenaran terhadap materi yang dikaji itu. Artinya, materi yang dikaji hendaknya menjadi keyakinan, bukan sekadar pengetahuan. Ketiga, materi yang dikaji harus praktis, bukan teoretis yang tidak ada faktanya dalam kenyataan empiris.

Menurut Ustadz, keberadaan kelompok Muslim liberal itu bermanfaat atau justru berbahaya bagi umat?

Mungkin pertanyaan yang tepat begini: seberapa jauhkah bahaya kelompok liberal bagi umat? Begitu. Jadi, tidak relevan membicarakan manfaat kaum liberal bagi umat. Sebab, apa manfaatnya ide-ide mereka yang justru hendak menghancurkan akidah dan syariat Islam? Nggak ada, kan? Pemikiran mereka itu seperti ‘kanker ganas’ dalam tubuh umat Islam. Kanker itu sangat berbahaya, nggak ada gunanya sama sekali.

Lalu bagaimana kita meng-counter pemikiran kalangan liberal dan ide-ide mereka itu?

Untuk menghadapi mereka, saya pikir ada dua langkah. Pertama, melakukan pergolakan pemikiran (ash-shirâ’ al-fikrî) untuk menentang ide mereka dan menyadarkan umat. Intinya, ide mereka dalam satu masalah harus dibongkar kebobrokannya, dan di sisi lain harus dijelaskan bagaimana konsep Islam yang sahih dalam masalah itu. Kedua, melakukan perjuangan politik (al-kifâh as-siyâsî) untuk membongkar posisi mereka sebagai antek-antek penjajah yang bertujuan untuk menghancurkan Islam dan mengokohkan sekularisme di Dunia Islam. Umat harus tahu dan sadar, kaum liberal itu bergerak untuk kepentingan penjajah, bukan demi kemaslahatan Islam. Kalau kaum liberal mengklaim mereka hendak memajukan Islam dan umat Islam, itu adalah omong-kosong dan hanya bualan saja. Dengan dua langkah itu, umat akan tahu apa dan bagaimana pemikiran kaum liberal itu, sekaligus tahu siapa-siapa mereka itu. Dengan begitu, umat bisa memblokir ide-ide mereka, dan mengucilkan para pengembannya. Dua langkah tersebut harus kita lakukan sejak sekarang.

Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini secara tuntas, Ustadz?

Agar tuntas, dua langkah tadi harus ditambah satu lagi, yaitu jalur hukum (al-qadhâ‘). Maksudnya, jalur peradilan dalam negara Khilafah nantinya. Kalau mereka tidak mau berhenti, mereka bisa diadukan kepada hakim sebagai komplotan yang menyebarkan kekafiran, mengajak orang murtad, dan berkolaborator dengan penjajah. Peradilan nanti yang akan mengambil sanksi tegas atas mereka.?

(sumber : http://www.swaramuslim.net)

MAJALAH SYIR`AH :: PROPAGANDA PEMURTADAN BERLABEL ISLAM

Saturday, July 2nd, 2005

Majalah_syirah1
Dengan label dan moto Islam yang disandangnya, secara rutin majalah Syir’ah menanamkan propaganda pemurtadan dan mempromosikan berbagai aktivitas dan gerakan Kelompok Liberal berkedok Islam. Radio 68H milik JIL hampir tidak pernah absen dari iklan di back cover Syir’ah.

Pentolan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang pernah menghiasi cover depan Syir’ah adalah Ahmad Fuad Fanani. Pada edisi nomor 37, wajah Fuad Fanani tampil bareng bersama-sama dengan para liberalis lainnya, antara lain: Ahmad Baso, Yeny Wahid, Musdah Mulia –yang menggebrak umat Islam dengan KHI yang dinilai menyesatkan oleh mayoritas umat Islam– dan lain-lain.

Arah pijakan majalah yang didanai oleh founding Amerika ini, bisa ditebak dengan mudah. Bila terjadi polemik antara Islam dan Kristen, maka keberpihakannya tidak diarahkan kepada Islam. Bila mempublikasikan Yahudi dan Kristen, maka struktur dan gaya bahasanya diukir sedemikian terpuji penuh simpati. Tapi bila yang dipublikasikan itu Islam, maka gaya bahasanya sedemikian keras dan tajam menohok.

Fatwa-fatwa yang diusung oleh pengasuh rubrik Konsultasi Fiqh pun jelas mendukung perilaku murtad yang oleh Al-Qur‘an telah dikutuk dengan ancaman neraka.

Ketika memberitakan kaum Yahudi, Syir’ah menampilkan sisi kebaikannya serta-merta melupakan berbagai kejahatan dan kebiadabannya. Edisi nomor 32, Syir’ah memasang salah satu judul “Yahudi Pejuang Damai” di cover depan. Tulisan yang dimaksud adalah rubrik Mancanegara (hlm. 56-60) yang mengangkat bangsa Yahudi. Dalam rubrik itu, Yahudi disanjung sedemikian rupa dengan kalimat sinopsis: “Ulah kaum Yahudi identik dengan kekerasan. Padahal pelakunya hanya sebagian dari kelompok Zionis.”

Kalimat yang ditampilkan Syir’ah ini jelas bukan pandangan Islam, karena pernyataan tersebut bersinggungan balik dengan ayat Al-Qur‘an: “…Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Qs. Ali Imran 110).

Untuk mendukung kesimpulan tulisannya bahwa Yahudi adalah pejuang damai, Syir’ah menampilkan bukti adanya 5 kelompok lintas agama yang diistilahkan oleh Syir’ah sebagai “Yahudi-yahudi berhati Mahatma Gandhi.” Menutup argumentasinya bahwa Yahudi adalah pejuang perdamaian, Syir’ah menyitir ayat Alkitab (Bibel) bagian Perjanjian Lama (Old Testament), yaitu kitab Deuteronomy 20:10-12. “Padahal, Yahudi dikenal sebagai agama yang menekankan perdamaian. Rukun ke-6 dari 10 Rukun Iman Yahudi menyebut, “Kamu tidak boleh membunuh,” tulis Syir’ah.

Kutipan ayat Bibel kitab Deuteronomy (kitab Ulangan) untuk menyatakan Yahudi sebagai pejuang (pahlawan) perdamaian, adalah bukti nyata bahwa Syir’ah sangat ceroboh dalam membaca kitab suci. Ayat yang dimaksud berbunyi demikian:

“Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu.

Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya.

Dan setelah Tuhan, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, boleh kau pergunakan” (Ulangan 20:10-14).

Ayat ini jelas bukan mendorong perdamaian, tapi pemicu penjajahan, perbudakan dan pembunuhan terhadap negara lain yang lebih lemah. Tersebut jelas dalam ayat tersebut, bila suatu negara mau berdamai harus dijajah dengan pekerjaan rodi. Tapi jika negara tersebut tidak mau berdamai, maka harus dikepung sampai takluk. Jika negara tersebut sudah takluk, maka seluruh penduduknya yang laki-laki harus dibunuh, sedangkan wanita dan anak-anak harus dijadikan sebagai jarahan.

Perhatikan pula gaya bahasa yang dipakai Syir’ah untuk memberitakan komunitas Kristen. Guratan-guratan kalimatnya begitu indah penuh simpati. Dalam rubrik Mancanegara (Syir’ah No. 39, hlm. 62-64), Syir’ah mengangkat kiprah gereja Saintologi di Aceh dengan tulisan berjudul “Dari Gereja, Bergerak Lintas Identitas.” Di sini Syir’ah memuji-muji kiprah Gereja Saintologi, salah satu sekte yang dianggap sebagai bidat oleh Protestan dan Katolik.

Ketika terjadi pro-kontra umat Islam dan Kristen tentang RUU Kerukunan Umat Beragama, Syir’ah malah berpihak ke kalangan Nasrani. Maka bulan Januari 2004 Syir’ah mengangkat tema utama “Kerukunan Dalam Bahaya”. Berita dan analisisnya pun jelas mendukung aspirasi umat Nasrani, dengan beberapa judul tulisan: “Urungkan RUU Kerukunan Umat Beragama” (hal. 16); “Aturan Kerukunan yang Mencakar” (hal. 18-22); “Akui yang Lima, Akui Selain yang Lima” (hal. 23-26); “Kerukunan Tak Bisa Didikte” (hal. 28-31), dan lain-lain.

Nuansa propaganda pemurtadan yang diusung majalah Syir’ah nampak mencolok pada edisi nomor 27 yang mengangkat tema “Pindah Agama Karena Hidayah.” Nampaknya, edisi ini sepenuhnya dipersembahkan untuk mendukung pemurtadan umat.

Dari opini redaksi (semacam rubrik editorial), sejak awal dikatakan, “Tak perlu panik karena pindah agama. Barangkali harus kita akui, orang Islam itu suka plin-plan… Kita tak perlu lagi mencemaskan seberapa besar orang keluar dari Islam. Yang kita cemaskan adalah seberapa parah Islam tak berdaya melahirkan kedamaian di masyarakat. Dan kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat” (hlm. 16).

Islam Diinjak-injak, Non Islam Dijunjung Tinggi

Majalah_syirah2Kalau dicermati, dari struktur dan gaya bahasanya, kalimat di atas jelas bukan ucapan orang Islam, tapi ucapan yang keluar dari mulut orang non Islam, orang kafir atau orang munafik yang mempropagandakan anti Islam.

Kalau dibandingkan dengan pilihan kata ketika menulis tentang Yahudi dan Kristen di atas, jelas sekali betapa berat dan besarnya keberpihakan dan subjektivitas Syir’ah dalam menganakemaskan Yahudi dan Kristen, serta-merta menganaktirikan Islam.

Ketika melukiskan perilaku Yahudi, kalimat yang dipakai adalah: “Yahudi Pejuang Damai,” “Yahudi-yahudi berhati Mahatma Gandhi,” “Yahudi dikenal sebagai agama yang menekankan perdamaian,” dan sebagainya. Betapa agungnya pujian Syir’ah kepada Yahudi.

Tapi, ketika melukiskan Islam dan penganutnya, kalimat yang dipakai adalah: “Harus kita akui, orang Islam itu suka plin-plan,” “seberapa parah Islam tak berdaya melahirkan kedamaian di masyarakat,” “Biasanya para pemeluk agama menghindari perilaku haram itu. Akan tetapi, fenomena ini di kalangan mahasiswa Muslim tak begitu. Sebagian dari mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa,” dan masih banyak lagi. Masya Allah! Betapa tengiknya caci-maki majalah Syir’ah yang ditujukan untuk agama Islam dan umat Islam.

Memang, begitulah keyakinan Syir’ah. Rusak!! Orang masuk Islam dengan orang keluar Islam (murtad), sama-sama dikatakan mendapat petunjuk (hidayah) Ilahi. “Isyarat Langit Menjelang Pindah Agama. Mereka pindah agama bukan karena disogok mi instan. Baik yang “murtad” maupun yang muallaf sama-sama berangkat dari petunjuk Ilahi.” (hlm. 18).

Padahal orang yang masuk Islam itu adalah orang yang mendapat petunjuk (hidayah) Allah. Sebaliknya, Al-Qur‘an surat An-Nisa 137 secara tegas dan jelas menyebutkan orang yang murtad tidak mendapat petunjuk (hidayah) Allah (lihat rubrik Tafsir “Kata Al-Qur‘an tentang Murtad”).

Mempertegas sikapnya terhadap murtad, Syir’ah berujar, “Kita tak akan panik, meskipun orang berpindah-pindah agama sehari tiga kali, seperti minum obat.” Untuk mendukung sikapnya itu, Syir’ah menampilkan pengalaman rohani Piet Hasbullah Khaidir, mantan Ketua Umum PP IMM 2001-2003, yang kini menjadi anggota presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Diberitakan bahwa dia pindah iman sebanyak tiga kali dari Budha, Katolik bahkan Atheis. Ketika Tabligh mewawancarai, Piet membantah. “Saya sangat dirugikan betul dengan pem­beritaan itu. Karena wartawan Syir’ah tidak memahami konteks pembicaraan saya. Saya hanya menanggalkan “iman” sebentar untuk menyelami agama lain. Karena saya kuliah di jurusan akidah filsafat yang salah satu materinya adalah perbandingan agama,” bantahnya.

Anehnya, sampai sekarang Piet tak menggunakan hak jawabnya dengan memberikan bantahan kepada Syir’ah tentang kemurtadan dirinya. Ketika Masyhud dan Abu Mumtaz dari Surabaya mewawancarai Mujtaba Hamdi, Pemimpin Redaksi Syir’ah, dengan tenang dia menjelaskan bahwa sampai sekarang kami belum pernah menerima komplain dari yang bersangkutan. “Kalau berita kami salah, kami tunggu sanggahan dan hak jawab Piet Haidar,” tantangnya.

Para aktivis persyarikatan Muhammadiyah berharap agar informasi Syir’ah tentang kemurtadan mantan ketua IMM ini tidak benar. Sebab berita ini sungguh mencoreng muka kader persyarikatan. “Seharusnya Piet Haidir membantah pemberitaan Syir’ah, jika berita itu salah. Ini penting, demi nama baik kita semua,” ujar seorang mubaligh Muhammadiyah dalam perbincangannya dengan Tabligh di Masjid At-Taqwa PP Muhammadiyah beberapa waktu lalu.

Terakhir, dalam rubrik Konsultasi Fiqh (Syir’ah No. 39, hlm. 84-85), Abdul Moqset Ghazali, menjawab pertanyaan tentang hukum pindah agama (murtad). Seorang ibu bertanya perihal anaknya yang berencana akan pindah agama meninggalkan Islam. Menurut penjelasan penanya, anaknya yang sedang duduk di bangku kuliah itu sudah tidak betah dalam Islam karena termakan isu terorisme akhir-akhir ini. “Bagaimana pandangan fikih Islam menyangkut perpindahan agama ini?” tanya ibu Fatimah, pembaca Syir’ah.

Menjawab pertanyaan hukum murtad tersebut, Abdul Moqset Ghazali mengemukakan tiga ayat Al-Qur‘an, yaitu: surat Al-Kafirun 6 “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (lakum dinukum waliyadin), surat Al-Kahfi 29 “Barangsiapa yang ingin beriman maka berimanlah, dan barangsiapa yang ingin kafir maka kafirlah” (faman sya’a falyu’min, faman sya’a falyakfur), dan Al-Baqarah 256 “Tidak ada paksaan di dalam urusan agama” (la ikraha fid-din).

Setelah mengutip ayat tersebut, Abdul Moqset menjelaskan, “Ayat-ayat di atas cukup jelas, bahwa manusia tidak dipaksa untuk memeluk suatu agama dan keluar dari agamanya. Tuhan memberi kebebasan penuh kepada manusia untuk beriman atau tidak beriman, beragama Islam atau tidak. Kalau Tuhan saja tidak memaksa seluruh hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya, maka lebih-lebih orang tua terhadap anaknya.”

Kemudian Abdul Moqset menyimpulkan, “Namun, sekiranya dia telah berketetapan hati untuk pindah ke agama lain, maka tidak ada pilihan lain kecuali bahwa Ibu Fatimah mesti mengikhlaskan kepergiannya ke agama lain itu. Sesuai dengan perintah Al-Qur`an di atas, tidak boleh ada pemaksaan menyangkut perkara agama.”

Betapa lancangnya orang yang mengaku Ustadz dari Madura ini. Dengan gegabah disimpulkan bahwa surat Al-Kafirun 6, Al-Kahfi 29 dan Al-Baqarah 256 memerintahkan umat Islam untuk mengikhlaskan seseorang (anak, istri, suami, ayah, ibu, saudara, kerabat dan seterusnya) jika mau murtad meninggalkan Islam.

Kesesatan fatwa kiyai pengasuh Syir’ah ini dibongkar lebih lanjut oleh Buya Risman, pengasuh Biro Konsultasi Agama MTDK PP Muhammadiyah. Menurutnya, ketiga ayat tersebut jika dibaca utuh, menjelaskan prinsip Islam bahwa pilihan agama yang benar itu adalah masuk agama Islam yang disertai dengan menjauhi kesesatan dan kekafiran. (baca rubrik Konsultasi Agama halaman 20-21).

Secara tidak langsung, anjuran Kiyai Syir’ah agar bersedia mengikhlashkan orang yang murtad ke agama lain, sama artinya dengan menyarankan agar mengikhlashkan orang menjadi orang kafir, sesat dan akhirnya masuk neraka. Padahal Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim 6).

Propaganda “Mesum” Majalah Syir’ah

Misi lain Syir’ah yang tak kalah rusaknya dengan pemurtadan adalah pencitraburukan umat Islam dalam hal seksual. Pencitraburukan ini semakin kurang ajar bila digeneralisir bahwa semua mahasiswa Muslim melakukan penyimpangan seksual.

Pada edisi nomor 30, Syir’ah mengangkat topik utama berjudul “Seks Bebas di Kampus Hijau.” Edisi ini khusus membleceti penyimpangan seksual di kampus-kampus Islam yang disoroti secara gebyah uyah (dipukul rata).

Entah apa maunya Syir’ah menampilkan berita ini? Yang jelas, berita ini bisa menimbulkan antipati dan sinisme orang awam dan kalangan non Islam terhadap kampus berlabel “Islam.” Betapa tidak? Perhatikan saja sinopsisnya: “Terpuruknya iman di lubang hasrat. Ajaran agama menilai seks di luar nikah sebagai perbuatan berbuah dosa. Biasanya para pemeluk agama menghindari perilaku haram itu. Akan tetapi, fenomena ini di kalangan mahasiswa Muslim tak begitu. Sebagian dari mereka bahkan menganggap seks bebas itu sudah biasa.” (hlm. 18).

Pada halaman berikutnya, kalimat yang dicapture dengan huruf besar pun semakin melecehkan pesantren: “Ihwal kebebasan seks di kalangan mahasiswa bukanlah hal aneh. Tapi cukup mengagetkan jika ternyata pelakunya banyak dari kalangan pesantren.”

Diblow up di dalamnya tentang seks bebas di kampus Islam yang dilakukan oleh para aktivis kampus Islam, aktivis Harakah Khilafah (Hizbut Tahrir?), dan alumnus pesantren. Foto ilustrasinya pun sangat mesum dan melecehkan Islam. Ada foto wanita berjilbab sedang tidur berpelukan di ranjang dengan lawan jenisnya, ada beberapa keping cover VCD porno lengkap dengan cuplikan foto bugilnya, dan seterusnya. Ada gambar setengah badan dua orang pasangan sedang berpelukan saling berpegangan pinggang selayaknya suami-istri. Seolah-olah, adegan mesum itu sangat akrab di kalangan “kampus hijau.”

Perwajahan Syir’ah yang seronok pun tak pantas menyandang label Islam. Dari capture foto di dalamnya, lebih tepat kalau Syir’ah dikategorikan sebagai media “biru” sejajar dengan tabloid Hot, Pop, Lipstik, Lelaki, Ehm, dll.

Bayangkan saja, ketika mengangkat kontroversi film Buruan Cium Gue (BCG), dibahas polemik antara AA Gym dengan Raam Punjabi (Syir’ah edisi nomor 35).

Capturenya pun sangat seronok, adegan film BCG dicapture utuh. Ada dua pasang remaja berdiri berpelukan. Yang sepasang sebelah kiri, seorang remaja putra yang lebih tinggi dari pasangannya menempelkan kepalanya pas ke kening sang putri. Tangan yang putra memegang perut pas di bawah buah dadanya. Sang putri terlihat diam menikmati perlakuan tersebut.

Pasangan yang kedua, berdiri di sebelah kanan. Sang cewek memakai busana ketat, ketiaknya melompong, roknya di atas lutut, panjangnya setengah paha. Dia berdiri dengan wajah penuh rangsangan, menempelkan –maaf– kedua buah dadanya ke perut sang cowok. Sementara sang cowok yang berkaus hitam yang lebih tinggi, berdiri memegang lehernya dan mengarahkan pandangannya ke bawah, seolah sedang mengamati buah dada sang cewek. (hlm. 53).

Pada edisi nomor 22, Syir’ah menyajikan topik utama “Sex on TV: Bangkrutnya Petuah Halal-Haram”. Intinya, mengajak pembaca untuk pembaca untuk mengabaikan “sementara” halal-haram guna meramaikan pembicaraan seksual.

Ilustrasinya pun jauh dari etika Islam. Pada halaman 18 ditampilkan foto relief –maaf– alat kelamin laki-laki berdiri menjulang ke atas –maaf– sedang menusuk alat kelamin wanita. Pantaskah media ini disebut majalah Islam?

Kita memang harus cerdas dan teliti dalam memilih bacaan. Memang buku adalah guru yang paling baik. Tapi jika salah baca, maka akan jadi racun bagi keselamatan iman kita. Waspadai media-media yang didanai oleh founding asing.

Uang memang bisa merubah segalanya jadi kejam. Karena uang, sahabat bisa jadi musuh, bahkan tak jarang berujung pada dendam dan pembunuhan. Gara-gara uang pula, orang memusuhi agama dan keyakinannya, bahkan tak jarang berujung pada fitnah dan pemurtadan. (Majalah tabligh)

Wallahu musta’an.